Rabu, 13 Januari 2010

Kompas - JALAN BLORA RUSAK


Separuh Jalan di Blora Rusak
Curah Hujan Baru Menurun Maret

Rabu, 13 Januari 2010 11:27 WIB
BLORA, KOMPAS - Masyarakat di sejumlah desa di Kabupaten Blora mengeluhkan kerusakan jalan kabupaten yang terjadi hampir setiap tahun di lokasi yang sama. Dari total 400 kilometer jalan kabupaten di Blora, hampir separuhnya rusak.
Jalanan yang kerap dikeluhkan semisal Jalan Blora-Randublatung di Desa Klopodhuwur dan Jalan Desa Kemiri, Kecamatan Kunduran. Jalan itu berlubang lebar di sejumlah titik dan setiap hujan becek tergenang air. Masyarakat menilai Pemerintah Kabupaten Blora kurang serius menangani pembangunan dan perbaikan jalan.
Supratno (45), warga Desa Klopodhuwur, Kecamatan Banjarejo, Selasa (12/1), mengatakan, Jalan Raya Blora-Rembang di Desa Klopodhuwur rusak lagi meski telah diperbaiki sekitar dua bulan lalu. Setiap hujan deras, jalan dan lubang jalan terendam air setinggi 5-20 sentimeter.
"Hal itu kerap mencelakakan pengendara sepeda motor. Mereka kerap terpeleset atau terjatuh lantaran terperosok lubang jalan," kata Supratno, petani yang melewati jalur itu setiap hari.
Secara terpisah, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Blora Samsul Arief mengakui, DPU kurang maksimal dalam merawat dan membangun jalan. Hal itu lantaran anggaran perawatan dan pembangunan jalan tidak sebanding dengan kerusakan jalan.
Menurut Samsul, pada tahun ini anggaran pembangunan jalan dan jembatan berkurang dari Rp 40 miliar menjadi Rp 20 miliar. Padahal dari 400 kilometer jalan kabupaten di Blora, yang rusak hampir separuhnya. "Kami akan memprioritaskan dana itu untuk memperbaiki jalan kabupaten, bukan desa. Misalnya Jalan Blora-Randublatung dan Kamolan-Kalisari," kata Samsul.
Sementara di Semarang, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jawa Tengah Suryono Suripno menyatakan, kalau curah hujan masih normal sekitar 50 milimeter per hari, sungai masih mampu menahan banjir. Curah hujan yang mencapai 100 mm per hari harus diwaspadai. Bahkan, curah hujan setinggi 230 mm per hari pernah terjadi awal Februari 2009 dan mengakibatkan banjir besar di Kota Semarang.
Normalisasi sungai dan pembenahan infrastruktur perairan di Jawa Tengah sudah dilakukan sejak awal 2009. Namun, dengan kondisi sungai yang ada saat ini, banjir tetap berpeluang terjadi jika tingkat curah hujan di atas normal.
Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah Evi Luthfiati mengatakan, curah hujan di atas 100-200 mm per hari masih berpotensi terjadi pada Januari dan Februari 2010. Tingkat curah hujan baru akan menurun pada Maret 2010. Hujan di Kota Semarang beberapa hari lalu mencapai 135 mm per hari. Normalnya, tingkat curah hujan sekitar 300-400 mm per bulan. (hen/den)



Pelestarian Tradisi
Pelajar dan PNS Blora Wajib Berbahasa Jawa

Selasa, 12 Januari 2010 16:03 WIB
BLORA, KOMPAS - Pemerintah Kabupaten Blora dan Yayasan Studi Bahasa Jawa (YSBJ) Kanthil Cabang Blora mewajibkan pelajar SD, SMP, SMA, dan pegawai negeri sipil (PNS) berbahasa Jawa setiap Kamis. Tujuannya adalah melestarikan bahasa Jawa dan unggah-ungguh (sopan-santun) Jawa yang terus memudar seiring lahirnya generasi baru.
Ketua YSBJ Kanthil Cabang Blora Dwi Santoso di Blora, Senin (11/1), mengatakan, kewajiban berbahasa Jawa itu berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 895.5/01/2005 tanggal 13 Februari 2005. Aturan itu ditegaskan pula dalam Kongres Bahasa Jawa di Jawa Tengah.
Pada 7 Desember 2009, Bupati Blora Yudhi Sancoyo mengeluarkan Instruksi Bupati Nomor 4343/5668 tentang Penggunaan Bahasa Jawa sebagai Bahasa Pengantar dalam Kegiatan Pemerintahan dan Umum. YSBJ Kanthil menindaklanjuti instruksi itu dengan menerapkan bahasa Jawa di lingkungan pendidikan dan pemerintahan.
"Kami mewajibkan pelajar dan PNS berbahasa Jawa setiap Kamis. Aturan itu kami terapkan mulai 1 Januari 2010 dan akan kami evaluasi terus setiap beberapa bulan sekali," kata Dwi.
Menurut Dwi, YSBJ Kanthil Cabang Blora memfokuskan diri untuk mengembangkan dan melestarikan bahasa Jawa krama alus (halus) dan inggil (tinggi). Kalau dimungkinkan, Yayasan akan mengembangkan pula bahasa Jawa khas Blora.
Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Blora Gunadi mengemukakan, banyak keluarga modern yang tinggal di kota Blora kurang mengajarkan bahasa dan sopan-santun Jawa kepada anak-anaknya. Komunikasi sehari-hari yang mereka pakai adalah bahasa Jawa ngoko (kasar) dan bahasa Indonesia.
"Maka tidak mengherankan jika seorang anak atau siswa tidak menghargai orangtua atau gurunya lagi. Dalam berbahasa dan bertindak-tanduk, anak-anak memperlakukan orangtua dan guru seperti teman sebaya," kata Gunadi.
Padahal, untuk menggunakan bahasa Jawa, masyarakat Jawa harus mengikuti sopan-santun. Misalnya, bahasa Jawa ngoko digunakan untuk orang sebaya atau orangtua terhadap anaknya, sedangkan bahasa Jawa krama, baik krama alus maupun krama inggil digunakan untuk menghormati orang yang lebih tua.
Gunadi mengaku khawatir bahasa dan unggah-ungguh Jawa hilang dari peredaran masyarakat di Jawa. Manusia sekarang lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia dan mempelajari bahasa asing. Selain itu, banyak produk teknologi dan informasi yang tidak mengadopsi bahasa Jawa. (hen)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar