Rabu, 20 Januari 2010

Radar Bojonegoro -SEPUTAR MUSDA GOLKAR


[ Senin, 18 Januari 2010 ] 
Haryono Mundur, Yudhi Menang Aklamasi 
Dalam Musda Lanjutan Partai Golkar 


BLORA - Konflik internal di tubuh Partai Golkar (PG) Blora mencair. Bahkan, dapat dibilang antiklimaks. Dua kubu calon ketua DPD PG Blora, Yudhi Sancoyo dan Haryono S.D., akhirnya akur. Dalam musda lanjutan yang digelar di gedung DPD PG Blora kemarin (17/1) sore, Haryono memilih tidak mencalonkan diri lagi. 

Ini berbeda dengan musda pertama yang dihelat Minggu (10/1) lalu. Ketika itu Haryono kukuh mencalonkan diri sebagai ketua DPD PG. Bahkan, ketika itu dukungan suara yang diperoleh Haryono di atas Yudhi. Haryono sempat memperoleh dukungan 11 suara, sedangkan Yudhi 6. Namun, dalam musda kemarin semua berbalik 180 derajat. 

Sehingga, Yudhi Sancoyo menjadi calon tunggal. Yudhi yang juga bupati Blora tersebut akhirnya terpilih secara aklamasi untuk memimpin PG Blora untuk lima tahun ke depan. "Hanya, pimpinan kecamatan (PK) Sambong yang tidak hadir (dalam musda)," ungkap Indarjo, pimpinan musda kemarin.

Dalam musda yang juga dihadiri pimpinan DPD Golkar Jateng itu, Indarjo mengatakan, 

dalam tata tertib dan petunjuk pelaksanaan (juklak) musda dijelaskan, pemilihan ketua ada dua tahap, yakni pencalonan dan pemilihan. 

Dalam tahap pencalonan, apabila terdapat calon yang mempunyai dukungan 50 persen plus satu dari jumlah suara yang diperebutkan, calon tersebut bisa dipilih secara aklamasi. Karena Haryono mundur dari tahap pencalonan, maka hanya Yudhi yang berhak maju dalam tahap pemilihan. "Dan karena Pak Yudhi calon tunggal, sehingga langsung dipilih (sebagai ketua DPD) secara aklamasi," terangnya.

Haryono sendiri menolak anggapan berbagai kalangan kalau dirinya mundur dari bursa ketua DPD, karena tekanan. Haryono mengaku memilih mundur karena ingin tetap loyal kepada pimpinan partai, dalam hal ini DPD Golkar Jateng. Karena itu, jika DPD meminta rekonsiliasi, dia manut. Meski, sebelumnya sebanyak 11 suara solid mendukungnya. Dia mengungkapkan, semua itu dilakukan demi kebaikan bersama. "Juga demi kejayaan dan kebesaran Partai Golkar," ujarnya.

Usai pemilihan ketua, acara dilanjutkan dengan rapat tim formatur. Tim formatur terdiri dari lima orang yang diketuai Wakil Ketua DPD Golkar Jateng Petit Widyatmo, dengan anggota Kusnanto, Indarjo, Sarjono, dan Adi Wibowo. Hasilnya, mereka menyusun tujuh pengurus harian yang kemarin juga langsung dikukuhkan DPD Golkar Jateng. 

Tujuh pengurus harian DPD PG Blora yang dikukuhkan Iqbal Wibisono, atas nama DPD Golkar Jateng. Pengukuhan ditandai dengan penyerahan panji atau bendera PG kepada Yudhi Sancoyo. Selanjutnya akan dilakukan penyusunan struktur lengkap kepengurusan DPD PG Blora. 

Bakal terpilihnya Yudhi Sancoyo secara aklamasi mulai terlihat semenjak musda belum dimulai. Bahkan, Sabtu (16/1) malam beredar informasi kalau sudah terjadi rekonsilisasi antardua kubu. Haryono dikabarkan menyerahkan dukungannya kepada Yudhi Sancoyo. Caranya, dia tidak akan mencalonkan diri. Dan itu akhirnya terbukti dalam arena musda kemarin. Haryono, meski datang ke arena musda, tidak mencalonkan diri.

Menanggapi kemenangannya, Yudhi Sancoyo menyatakan hal itu sudah seharusnya. Sebab, sebelumnya sudah ada 16 PK yang mendukungnya maju lagi menjadi calon. Sehingga, saat para PK berbalik dukungan, dia terus berusaha mengejar dan meminta komitmenya. Karena itu, semua dukungan kembali kepadanya. "Ya, memang semula kan begini," paparnya. (ono)



Luar Dijaga Ketat, Dalam Adem Ayem 
PANASNYA persaingan kedua kubu calon ketua DPD Partai Golkar (PG) Blora membuat aparat bersiaga penuh. Sejak pagi puluhan aparat keamanan sudah mengamankan lokasi. Belum lagi keamanan dari pihak panitia sendiri. 

Pintu masuk arena musda dijaga ketat. Siapa saja yang tidak mempunyai ID card dari panitia, dilarang masuk. Hal itu dilakukan untuk mengantispasi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena itu, banyak orang yang tertahan di luar pagar, termasuk ajudan bupati Blora. Itu membuat panitia harus memberikan ID card untuk ajudan, baru kemudian boleh masuk. 

Semula wartawan juga dilarang masuk, karena tidak mempunyai ID card dari panitia. Sehingga wartawan hanya bergerombol di seberang jalan di depan arena musda. Setelah di luar cukup lama, baru panitia kemudian memberikan ID card untuk wartawan. Baru diperbolehkan masuk.

Antisipasi aparat keamanan sangat serius. Bahkan, Kapolres Blora AKBP Isnaeni Ujiarto sendiri harus turun ke lapangan untuk memimpin pengamanan. Sementara itu, satu regu Brimob dari Polwil Pati serta satu unit mobil meriam air (water canon) juga disiapkan. Sedangkan dari polres sendiri puluhan pasukan pengendalian massa (dalmas) serta puluhan petugas berpakaian preman disebar di berbagai titik di lokasi musda. Di pintu masuk musda juga dijaga aparat Brimob dan petugas dengan anjing pelacak. "Ini untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar petugas.

Namun, antisipasi itu ternyata tidak sebanding dengan jalannya musda yang berlangsung 

adem ayem. Musda hanya berlangsung sekitar dua jam, sejak pukul 14.00. Setelah pemilihan aklamasi kemudian dilanjutkan dengan pengukuhan pengurus harian DPD Partai Golkar Blora. (ono)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar