Tampilkan postingan dengan label 27 Januari 2010 - upload - Roes - SR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 27 Januari 2010 - upload - Roes - SR. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Januari 2010

Radar Bojonegoro -11 PAC PDIP GERUDUK DPP



[ Rabu, 27 Januari 2010 ]

11 PAC Berangkat ke Jakarta

Adukan Pelaksanaan Pleno

BLORA - Upaya 11 dari 16 PAC PDIP Blora yang menuntut pelaksanaan rapat pleno ulang terus dilakukan. Setelah demo dan menyegel kantor DPC PDIP dilakukan, Senin (25/1) malam lalu, 92 orang yang terdiri dari pengurus 11 PAC, lima pengurus DPC dan simpatisan berangkat ke Jakarta.



Dengan menumpang dua bus besar, mereka ingin bertemu dengan Megawati Soekarno Putri, ketua umum DPP PDIP. "Kami akan bertahan di sana (Jakarta) sampai tuntutan kami dipenuhi," ujar Bambang, salah satu koordinator pengurus PAC sebelum berangkat.



Bambang yang juga sekretaris PAC PDIP Japah itu menyatakan, tuntutan yang diusung tetap sama, yakni pelaksanaan rapat pleno PAC untuk memilih ketua DPC, ketua DPD, dan ketua umum DPP PDIP yang sudah dilaksanakan diulang. Sedangkan yang belum melaksanakan pleno segera ditentukan jadwalnya.



Menurut dia, dari 16 PAC yang belum melaksanakan pleno, hanya lima PAC, sedangkan dari 11 PAC yang sudah menggelar pleno, sembilan PAC di antaranya sudah mendukung Colbert Mangara Tua untuk menjadi ketua DPC PDIP lima tahun ke depan. "Padahal, pleno itu tidak prosedural," tambahnya.



Bambang menegaskan, PAC dan DPC PDIP Blora sudah cukup bersabar menunggu jawaban dari DPD PDIP Jateng atas tuntutan itu. Sampai mereka berangkat ke Jakarta, DPD tetap belum memberikan jawaban. Sehingga, para kader partai itu nekat berangkat ke Jakarta. Dengan bertemu langsung para pemgurus DPP, diharapkan ada titik temu mengenai persoalan tersebut. "Kami ingin partai tidak dipermainkan seperti ini.''



Sekretaris DPC PDIP Blora Joko Supratno membenarkan keberangkatan 11 pengurus PAC itu. Bahkan, dia bersama empat pengurus DPC lainnya, yakni wakil ketua DPC Bagong Suwarsono, Martono, Budi Haryanto, dan Supangat ikut mendampingi pengurus PAC itu. Mereka bertekad menuntut pelaksanaan pleno ulang. "Bahkan, kalau memang memungkinkan, kami ingin pleno digelar di Jakarta," tandasnya.



Menurut politisi asal Tunjungan itu, telah terjadi degradasi moral oleh pengurus DPD. Sebab, tuntutan DPC dan PAC PDIP di Blora sama sekali tidak digubris. Bahkan, DPD memfasilitasi pelaksanaan pleno yang menurutnya tidak prosedural. Jika itu dibiarkan, PDIP akan semakin terpuruk. "Kalau tidak bisa ketemu Bu Mega, minimal kita ketemu dengan pengurus lain. Atau koordinator untuk wilayah Jawa,'' tambahnya.



Sementara itu, Colbert Mangara Tua, calon ketua DPC PDIP Blora yang mendapat dukungan terbanyak menyatakan yang dilakukan 11 PAC itu sah-sah saja. Menurut dia, di alam demokrasi memang sah menyuarakan kehendak. Namun, dia menyatakan pleno yang dilakukan 11 PAC juga sah. "Demi berjalannya demokrasi, itu hal biasa," ungkap anggota komisi C DPRD Blora ini.

Dari Tuban, DPC PDIP Tuban memastikan mendukung Sirmadji untuk menjadi ketua DPD PDIP Jatim. Demikian hasil Konfercab PDIP Tuban pada 24 Januari lalu. Selain ketua DPD, konfercab juga memutuskan untuk mendukung kembali Megawati Soekarno Putri sebagai ketua umum DPP PDIP.

Ketua DPC PDIP Tuban Karjo mengungkapkan, dari 20 PAC di Tuban, 15 di antaranya mendukung Sirmadji.
Sisanya, tiga dibagi antara lain, Karjo satu PAC; Ali Mudji, satu; dan Suprapto, satu. "Sedangkan dua PAC lainnya, Merakurak dan Tuban, tidak memilih," tegas Karjo, di gedung DPRD kemarin.

Karjo mengaku tidak tahu alasan dua PAC yang tidak memberikan pilihan. Yang pasti, calon yang suaranya terbanyak akan diusung dalam Konferda PDIP Jatim. Konferda bakal digelar awal Februari di Surabaya.

Sementara untuk kandidat ketua umum DPP PDIP, Megawati meraih 19 suara dari 20 PAC. Satu suara lainnya, yakni PAC Semanding, memilih Puan Maharani. Hasil ini akan dibawa dalam kongres PDIP awal April mendatang.
(ono/zak)




[ Rabu, 27 Januari 2010 ]

KPUK Blora Persiapkan Pilkada di Tengah Keterbatasan

Gunakan Setiap Kesempatan untuk Sosialisasi

Pemilihan umum kepala daerah (pikkada) Blora digelar 3 Juni nanti. Persiapan mestinya sudah dilaksanakan sejak sekarang. Namun, karena keterbatasan dana, persiapan tak bisa dilakukan secara maksimal, karena tahun ini dana belum cair.

SRI WIYONO, Blora

---

KPUK mengusulkan anggaran Rp 14 miliar untuk menggelar pilkada. Anggaran tersebut termasuk kemungkinan kalau pilkada sampai dua putaran. Hanya, untuk pelaksanaan kegiatan tahun ini, KPUK belum sepeserpun menerima anggaran. Sementara anggaran tahun lalu sudah habis. "Terus terang kita agak kesulitan untuk melakukan persiapan," kata Sugiyono, Sekretaris KPUK Blora.



Salah satu kegiatan yang penting adalah sosialisasi. Pengalaman sudah membuktikan, untuk pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilu presiden lalu, tingkat kehadiran tak lebih dari 70 persen dari jumlah pemilih. Itupun karena sebelumnya KPUK gencar melakukan sosialisasi. Sedangkan tahun ini anggaran untuk sosialisasi belum ada. Sehingga, sebisa mungkin setiap anggota KPUK atau petugas sekretariat menggunakan setiap kesempatan untuk sosialiasi. "Sebisa mungkin kita lakukan," tutur Siti Ruhayatin, ketua divisi sosialisasi KPUK Blora.



Sosialisasi yang dilakukan KPUK saat ini belum bisa maksimal. Sebab, sosialisasinya masih sebatas membagikan brosur dan memasang spanduk. Spanduk dan brosur itupun dari anggaran tahun lalu. Padahal, dibutuhkan sosialisasi intensif untuk menyukseskan pilkada yang tinggal beberapa bulan lagi. "Sementara itu yang bisa kita lakukan, karena memang dananya belum ada," tambah Atin, panggilan Siti Ruhayatin.



Selain dengan media brosur dan spanduk, KPUK membutuhkan sosialisasi lebih konkret yakni bertatap muka dengan warga. Misalnya, menggelar pertemuan dan sebagainya. Selain itu, untuk pemilih pemula, seperti para siswa dan lainnya, biasanya KPUK gelar sosialisasi dengan cara keliling. Namun, semua itu sekarang belum dilakukan. "Sudah kita jadwalkan. Namun bukan berarti kita hanya diam. Semua kesempatan kita gunakan untuk sosialisasi," tambahnya.



Sejauh ini, lanjut Atin, divisi sosialisasi juga sudah getol sosialisasi dengan biaya murah meriah. Misalnya membagikan brosur ke pedagang pasar, abang becak, dan lainnya. Selain itu, juga menggandeng lembaga-lembaga kemasyarakatan. Tujuannya, pertemuan itu melibatkan banyak orang. "Memang cukup berat, namun kendala dana tidak boleh menjadikan sosialisasi mandek,'' tandasnya.



Atin menjelaskan, para calon pemilih memang harus diberi sosialiasi yang jelas mengenai sistem pemberian suara dalam pilkada. Sebab, ada perubahan mendasar, dari mencentang atau mencontreng kembali ke mencoblos. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi divisi sosialisasi untuk menyukseskan pilkada.



Saat ini, KPUK juga mempunyai tugas cukup berat. Kedekatan pilkada dengan kondisi psikologis masyarakat, membuat KPUK menjadi sorotan. Penyelenggara pilkada diharap bisa menjalankan tugas sebaik mungkin. Untuk saat ini yang menjadi sorotan adalah daftar pemilih sementara (DPS). Sebab, pengumuman DPS yang dilakukan di desa-desa mendapat sorotan karena tidak akurat. Masih banyak kesalahan misalnya ada nama yang sudah meninggal namun masih dicantumkan dan lain sebagainya.



Atin mengatakan, secara teknis memang KPUK bisa meminta stelsel aktif, yakni warga diminta mendatangi tempat-tempat DPS diumumkan, dan mengecek apakah namanya sudah tercantum atau belum. Jika belum, warga melapor ke petugas pendataan dengan harapan namanya dicantumkan. Sebab, DPS masih bisa diperbaiki. "Namun, ternyata itu tidak cukup. Kami harus terjun langsung ke desa-desa untuk memantau," ujarnya.



Dia sadar masyarakat belum mempunyai kepedulian tinggi soal ini. Sehingga, berharap warga berbondong-bondong datang untuk melaporkan jika data di DPS itu salah satu kurang, sangat mustahil. Karena itu, KPUK berupaya keras bisa menarik minat warga, setidaknya dalam pilkada nanti tingkat kehadiran warga tinggi. (*)

Kompas Jateng - PROYEK DPU BERMASALAH




DPU:

Proyek

Tanpa Pengawas

Rabu, 27 Januari 2010 | 13:12 WIB

BLORA, KOMPAS - Kejaksaan Negeri Blora memeriksa tiga dari 157 proyek Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Blora tahun anggaran 2009 yang dilaksanakan tanpa konsultan pengawas. Terkait dengan kasus ini, kejaksaan akan memanggil dan meminta klarifikasi dari kontraktor dan pejabat terkait yang mengawasi proyek-proyek tersebut.


"Kami tidak akan berfokus pada ada atau tidaknya konsultan pengawas, tetapi pada kesesuaian proyek dengan bestek atau rencana dasarnya," kata Kepala Kejaksaan Negeri Blora Syaiful Tahir melalui Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Fitroh Rohcahyanto di Blora, Selasa (26/1).


Menurut Fitroh, kejaksaan belum akan memublikasikan ketiga proyek DPU Kabupaten Blora yang bermasalah itu. Pasalnya, kejaksaan masih mengumpulkan data, bukti-bukti, dan klarifikasi sejumlah pihak.


"Jika sudah cukup data dan bukti, kami baru akan menentukan tersangkanya dan memublikasikan kasus itu secara detail," kata dia.


Pengusutan kasus ini dilakukan Kejaksaan Negeri Blora menyusul informasi dari berbagai elemen masyarakat. Proyek tanpa konsultan pengawas dinilai berpotensi terjadi kecurangan.


Juru bicara Koalisi Masyarakat Peduli Antikorupsi (Kompak) Blora, Singgih Hartono, mengatakan, pihaknya mendukung sepenuhnya tindakan Kejaksaan Negeri Blora. Mereka juga mendukung sejumlah anggota DPRD Kabupaten Blora yang mengusung hak angket penunjukan konsultan pengawas proyek DPU.


LSM Kompak juga telah memantau delapan proyek di Kecamatan Randublatung, Blora, dan Kedungtuban. Proyek jalan empat buah, jembatan dua buah, dan pengairan dua buah. Semua proyek itu terindikasi bermasalah.

Kompak, lanjut Singgih, bakal melaporkan temuan-temuan mereka. (hen)




Pemilihan Bupati

Kepala Desa Jeruk Terancam Diberhentikan

Rabu, 27 Januari 2010 | 13:10 WIB

BLORA, KOMPAS - Kepala Desa Jeruk, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, Budi Wiyanto, terancam diberhentikan dari jabatannya karena terbukti menjabat sebagai pengurus partai politik. Temuan tersebut diperoleh Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kabupaten Blora setelah mengklarifikasi yang bersangkutan.


Budi dinilai melanggar Pasal 43 huruf (a) Peraturan Daerah Nomor 6/2006 tentang Tata Cara Pemilihan, Pelantikan, dan Pemberhentian Kepala Desa. Ia terancam diberhentikan dari jabatannya sebagai kepala desa.


Ketua Panwaslu Kabupaten Blora Wahono, Selasa (26/1) di Blora, mengatakan, selain sebagai kepala desa, Budi menjabat sebagai Sekretaris PAC PDI-P Kecamatan Bogorejo sejak 2007.


Menurut Wahono, Perda No 6/2006 menyatakan, kepala desa dilarang menjadi pengurus partai politik. Kalau terbukti terlibat, Pasal 46 Ayat 2 huruf (j) Peraturan Daerah itu mengatur kepala desa yang bersangkutan harus diberhentikan.


"Kami sudah memperingatkan Budi pada pemilu legislatif dan presiden, tetapi peringatan tersebut diabaikan. Untuk itu, kami akan melaporkan hasil klarifikasi itu kepada Bupati Blora agar segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan," kata Wahono.


Panwaslu Blora khawatir apabila menjelang pemilihan nanti kepala desa yang menjabat pula sebagai pengurus partai politik memanfaatkan jabatannya. Dia bisa saja memengaruhi warga agar memilih salah satu pasangan tertentu.


Budi Wiyanto mengaku tidak mengetahui ada peraturan yang melarang kepala desa merangkap sebagai pengurus parpol. Ia membantah masih terlibat dalam kepengurusan partai.


"Saya sudah mengajukan surat permohonan mengundurkan diri kepada pengurus anak cabang karena ingin fokus menjadi kepala desa. Saya kira mereka telah memproses suratnya," kata dia. (HEN)

Suara Muria - ANGGARAN PILKADA




27 Januari 2010 | 19:34 wib | Daerah

Anggaran Pilkada Bisa Dicairkan Mendahului Penetapan APBD


Blora, CyberNews. Anggaran Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) dapat dicairkan meski anggaran APBD masih dalam proses pembahasan di DPRD. Dasar pencairan anggaran Pilkada tersebut menggunakan Peraturan Kepala Daerah sesuai ketentuan Pasal 30 Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 44 Tahun 2007 yang telah diubah menjadi Permendagri Nomor 57 Tahun 2009 tentang Pedoman Belanja Pilkada.

"Dasar hukumnya sudah cukup jelas. Kami sudah mengomunikasikan dasar hukum itu dengan Pemkab dan DPRD," ujar Sekretaris Komisi Pemilihan Umum (KPU) Blora, Sugiyono, Rabu (27/1)

Sugiyono belum bisa memastikan apakah pencairan anggaran Pilkada Blora mendahului penetapan APBD tersebut akan dipilih Pemkab dan DPRD. Mantan camat Banjarejo itu mengungkapkan pihaknya telah memasukan usulan anggaran Pilkada Blora kepada Pemkab. Berdasarkan informasi yang dihimpun Suara Merdeka, jumlah usulan dana itu sekitar Rp 17 miliar. Hanya Sugiyono tidak bisa memastikan apakah usulan dana sebesar itu diterima seluruhnya atau tidak.

Rapat Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Blora kemarin memutuskan agenda rapat paripurna penetapan APBD 2010, 24 Maret. Pilkada Blora akan dilaksanakan Kamis Pahing 3 Juni 2010.

( Abdul Muis / CN14 )



27 Januari 2010 | 17:38 wib | Daerah

Angka Bunuh Diri di Blora Tinggi


Blora, CyberNews. Angka bunuh diri di Kabupaten Blora, terbilang cukup tinggi. Betapa tidak, dalam lima tahun terakhir saja, yaitu 2005-2009, tercatat 127 kasus bunuh diri.

Kepala Satpol PP Slamet Wiryanto melalui Bedjo, salah satu staf di Satpol PP, mengatakan bahwa alasan yang sering mengemuka dalam surat yang diterimanya, adalah karena faktor ekonomi, sakit keras yang tidak kunjung sembuh, hingga pasangan selingkuh.

Sementara itu, pengamat sosial budaya Gatot Pranoto yang juga Ketua Yayasan Mahameru, melihat, persoalan bunuh diri yang sering terjadi, harus dilihat secara universal, baik dari kacamata psikologis maupun sosiologis.

Untuk mengantisipasi agar bunuh diri ini tidak menjadi trend mengatasi masyarakat dalam menghadapi setiap persoalan, jelas Gatot Pranoto, harus ada penguatan psikologis dan mental masyarakat, terutama di daerah pinggiran yang sulit secara ekonomis atau finansial.

( Rosidi / CN14 )