Tampilkan postingan dengan label 7 januari 2010 - upload Roes - SR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 7 januari 2010 - upload Roes - SR. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Februari 2010

Kompas Jateng - Anggaran PANWAS DIPOTONG



Pengawas Pilkada

Anggaran Panwas Blora Bakal Dipangkas

Sabtu, 6 Februari 2010 | 15:28 WIB

BLORA, KOMPAS - Sejumlah anggota Badan Anggaran DPRD Kabupaten Blora menilai anggaran Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Blora senilai Rp 4,1 miliar tidak rasional. Untuk itu, Tim Anggaran Pemerintah Daerah harus merasionalisasi lagi anggaran itu maksimal menjadi Rp 1 miliar.


Anggota Badan Anggaran DPRD Kabupaten Blora, Seno Margo Utomo, Jumat (5/2), di Blora, mengatakan, anggaran Panwas terlalu tinggi sehingga harus dikurangi. Sebagai bandingan, anggaran Panwas Pilkada Malang, Jawa Timur, mengampu 33 kecamatan hanya Rp 1 miliar.


"Di Blora, Panwas hanya mengampu 16 kecamatan justru mengajukan dana Rp 4,1 miliar. Dana itu boros pada pos uang kehormatan, bantuan operasional, dan uang lembur," kata Seno.


Seno juga mencontohkan, uang kehormatan panitia pemilihan kecamatan (PPK) yang berada di bawah Komisi Pemilihan Umum (KPU) Blora sebesar Rp 800.000, sementara uang kehormatan ketua Panwas kecamatan Rp 1 juta dan Rp 750.000 untuk anggota. Seharusnya, uang kehormatan Panwas kecamatan lebih kecil ketimbang PPK karena tugas KPU sebagai penyelenggara lebih berat dan membutuhkan banyak pemikiran dan tenaga.


Secara terpisah, Ketua Panwas Pilkada Kabupaten Blora Wahono mengatakan, pengajuan dana itu lebih kecil ketimbang dana penyelenggaraan Pemilu Legislatif dan Presiden 2009 sebesar Rp 5,6 miliar. Panwas pilkada telah berupaya memangkas sejumlah anggaran-anggaran yang tidak terlalu penting. "Kami telah mengurangi dana pengadaan sarana-prasarana kerja karena memanfaatkan sarana-prasarana yang sudah ada. Kami juga menurunkan uang sewa motor operasional Panwas," kata Wahono.


Di Kabupaten Purbalingga, Ketua Panwas Pilkada Purbalingga, Basuki, Jumat (5/2), mengeluhkan minimnya anggaran operasional untuk kegiatan pengawasan Pilkada 2010. Anggaran yang minim tersebut dikhawatirkan memengaruhi kinerja pengawas di tingkat kecamatan dan desa.


Anggaran yang minim tersebut disebabkan kecilnya indeks biaya untuk pelaksanaan Pilkada Purbalingga 2010. Indeks tersebut berbeda dengan indeks biaya untuk pelaksanaan Pemilu 2009 dan Pemilihan Umum Gubernur Jawa Tengah 2008 yang masing-masing dibiayai APBN dan APBD Jateng.


"Pilkada Purbalingga 2010 ini dibiayai dengan APBD Purbalingga. Indeksnya terbatas. Ini yang membuat kami tak dapat mengajukan dana lebih dari indeks," kata Basuki


Honorarium untuk Ketua Panwas Purbalingga saat ini sebesar Rp 1,5 juta, sedangkan tiga anggota Panwas mendapatkan honor Rp 1,2 juta per orang. Untuk petugas pengawas kecamatan besaran honor berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 700.000 per orang. (hen/han)

Kamis, 07 Januari 2010

Kompas - HAK ANGKET DPRD tentang DPU



Hak Angket
Bupati Minta DPRD Bangun Citra Baik Blora

Kamis, 7 Januari 2010 | 14:06 WIB



BLORA, KOMPAS - Bupati Blora Yudhi Sancoyo meminta DPRD Kabupaten Blora turut membangun citra baik Kabupaten Blora. Mereka tidak perlu mempersoalkan terlalu jauh penunjukan konsultan pengawas proyek Dinas Pekerjaan Umum atau DPU Kabupaten Blora melalui hak angket.


"Persoalan itu cukup dirampungkan dengan memanggil dan mengklarifikasi pejabat terkait. Saya menghormati anggota DPRD pengusul hak angket karena itu adalah hak mereka," kata Yudhi di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Rabu (6/1).


Pernyataan itu terkait klaim dua kubu DPRD Kabupaten Blora yang mengusung dan menolak pengajuan hak angket penunjukan konsultan pengawas proyek DPU.


Kubu pengusung hak angket menyatakan mendapat dukungan 21 anggota DPRD. Kubu yang menolak mengklaim mendapat dukungan 31 anggota DPRD. Padahal, jumlah anggota DPRD Kabupaten Blora sebanyak 44 orang.


Menurut Bupati, DPRD perlu memfokuskan diri pada percepatan penetapan APBD 2010. Jangan sampai DPRD menetapkan APBD terlambat seperti tahun-tahun sebelumnya.


"Saya berharap DPRD konsentrasi ke pembahasan RAPBD 2010 sehingga APBD dapat ditetapkan akhir Januari 2010," kata Yudhi.


Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Blora Hanindyo Andri Haskoro mengatakan, Komisi C berupaya mengklarifikasi pejabat DPU dan tidak menemukan kerugian negara. Untuk itu, Komisi C meminta komisi atau anggota DPRD lain menghormati tugas dan wewenang yang dilaksanakan Komisi C.


"Fokus kami kini pada pembahasan dan percepatan penetapan APBD 2010," kata Hanindyo.


Ketua Fraksi Demokrat Joko Mugiyanto mengatakan, pengajuan hak angket tetap berlanjut. Pengajuan itu tidak bakal mengganggu pembahasan dan percepatan penetapan APBD 2010.


"Kami tidak melupakan prioritas utama DPRD Kabupaten Blora, yaitu mempercepat penetapan APBD. Kami menyiapkan materi dan pengajuan hak angket di luar pembahasan RAPBD," kata Joko.


Juru bicara Koalisi Masyarakat Peduli Antikorupsi (Kompak) Blora Singgih Hartono mengatakan, Kompak ke DPRD Kabupaten Blora, Kamis (7/1) ini. Kompak menanyakan pendapat dan sikap DPRD perihal kebijakan DPU yang menunjuk konsultan pengawas tidak sesuai prosedur. "Kami akan memberi dukungan moral kepada anggota DPRD pengusung hak angket," katanya. (HEN)

Radar Bojonegoro - PUTING BELIUNG LANDA BLORA


[ Kamis, 07 Januari 2010 ]

Puting Beliung Tumbangkan Ribuan Pohon Jati 
Jalur Blora-Cepu Ditutup


BLORA - Hujan deras disertai angin kencang membuat ribuan pohon jati di hutan sepanjang jalan Jepon-Cepu tumbang sejak Selasa (5/1) lalu sekitar pukul 18.00. Ratusan pohon di antaranya tumbang menutup jalan di jalur Blora-Cepu. Akibatnya, kendaraan tak bisa lewat mulai KM 16-21 jalur tersebut.


Sampai berita ini ditulis kemarin siang, jalur itu belum dibuka. Hanya kendaraan roda dua yang diperbolehkan masuk. Atau, mobil dan truk petugas yang diizinkan mendekat ke lokasi.


Informasi yang diperoleh wartawan koran ini di lokasi menyebutkan, sejak pukul 17.00 hujan disertai angin kencang sudah menerjang hutan yang masuk KPH Perhutani Cepu tersebut.


Suara bergemuruh terus terdengar di sepanjang sore itu. Mendekati pukul 18.00, hujan semakin deras dan angin bergulung-gulung datang mengempaskan ribuan pohon jati di hutan tersebut. Akibatnya, ratusan pohon yang berada di pinggir jalan masuk Desa Ngawenan, Kecamatan Sambong tumbang dan menutup jalur transportasi darat jurusan Blora-Cepu tersebut.


Puluhan mobil sempat terjebak di tengah hutan ketika peristiwa itu terjadi. Pohon yang tumbang juga menyambar tiang listrik dan telepon di sepanjang jalan itu. Kabel listrik dan telepon pun berserakan di pinggir jalan.


Polisi kemudian mengalihkan jalur dari Blora ke Cepu melalui Desa Bleboh, Kecamatan Jiken dari pos Cabak. Petugas juga berjaga di lokasi itu. Antrean panjang kendaraan dan kemacetan terlihat di Pos Cabak, Desa Cabak, Kecamatan Jiken sepanjang sekitar dua kilometer. Bagi kendaraan yang belum terjebak macet, mengambil rute memutar apabila ingin ke Cepu. ''Saya memutar lewat Bleboh, tapi juga macet,'' ujar Immanuel, warga Cepu yang terjebak kemacetan di hutan Bleboh, Selasa malam lalu.


Sementara itu, dari arah Cepu ke Blora, kendaraan tertahan di pertigaan Pasar Sore. Truk pengangkut pasir dan barang dari Cepu tak bisa bergerak karena rapatnya antrean. Hingga kemarin siang, puluhan truk masih belum bergerak dari tempatnya semula. Para awak truk dan penumpang kendaraan yang terjebak macet terpaksa menginap di tengah hutan tersebut.


Rata-rata kendaraan pribadi dan kendaraan bermuatan ringan lainnya mulai bisa bergerak sekitar pukul 04.00 kemarin. Itu pun, setelah aparat Perhutani dibantu anggota Polres Blora, Kodim 0721 dan Yonif 410 Alugoro bergotong royong menyingkirkan kayu-kayu yang melintang di tengah jalan. Sebelum disingkirkan, kayu-kayu itu dipotong-potong.


Kemarin siang, di sepanjang pinggir jalan masih berserakan kayu-kayu yang sudah dipotong maupun jati utuh. ''Kami masih akan menutup jalan ini sampai semua kayu di disingkirkan. Sementara buka separo jalan untuk kendaraan kecil. Bus dan kendaraan berat belum bisa,'' ujar Iptu Sudarno, Kaurbinops Satlantas Polres Blora saat ditemui di lokasi kemarin pagi.


Administratur (Adm) Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Cepu Imam Fuji Raharjo menjelaskan, ada ribuan pohon jati dan pohon produktif lainnya yang roboh. Sampai kemarin, pihaknya masih mendata pohon-pohon yang roboh itu. Khusus pohon yang roboh dan menutup jalan Blora-Cepu, kata dia mencapai 400 pohon lebih. "Anggota polisi dan TNI membantu membersihkan batangan pohon, bahkan pagi tadi saya, Pak Kapolres dan Pak Dandim baru pulang dari lokasi," jelasnya.


Menurut dia, pohon jati dan pohon produktif yang melintang di tengah jalan bisa teratasi bertahap dengan dipotong dan diangkut ke lokasi tempat penimbunan kayu (TPK) Perhutani terdekat.


Sementara itu, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Adi Purwanto kemarin juga meninjau lokasi. Dia mengatakan, pihaknya menemukan 15 titik penerangan jalan umum (PJU) milik pemkab di sepanjang jalan itu yang ambruk. ''Berapa juta itu Mas,'' katanya.


Jumlah itu belum termasuk tiang-tiang listrik milik PLN. Karena itu, sejak Selasa malam hingga beberapa hari ke depan dipastikan jalan sepanjang Cepu-Blora utamanya di kawasna hutan tersebut gelap gulita. Selain petugas dari Distamben, kemarin petugas dari PLN dan Telkom juga sibuk mengamankan asetnya masing-masing. Mereka menyingkirkan kabel listrik dan telepon yang berserakan di tengah jalan. (ono)

Rabu, 06 Januari 2010

Suara Muria - 10 Rumah Diterjang Angin


07 Januari 2010

Di Blora Timur, 10 Rumah Roboh

BLORA - Hujan deras yang disertai angin lisus, Selasa (5/1) petang kemarin menerjang Blora bagian timur, tepatnya di wilayah Kecamatan Sambong.


Selain menumbangkan puluhan pohon, lisus juga mengakibatkan 10 rumah di dua desa roboh dan seorang bocah luka-luka.


Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Namun kerugian akibat peristiwa itu diperkirakan cukup besar. Kepala Badan Kesbanglinmas Blora Drs H Bondan Sukarno semalam menjelaskan, kerugian yang diderita warga sampai saat ini masih didata oleh petugas.


”Laporan global sudah masuk ke kantor kami namun data terperinci saat ini masih dalam penghitungan,” jelas dia kepada Suara Merdeka.


Sebanyak 10 rumah yang roboh itu 9 di antaranya berada di Desa Ledok, Kecamatan Sambong. Satu lagi terjadi di Desa Temengeng.
Desa Ledok Rumah di Desa Ledok yang roboh adalah milik Parno (32), Sagi (45), Slamet (33), Dahlan (84), Marjito (40), Rajiman (60), dan Sujak (57).


Lalu rumah milik Sriyono (48) dan Wito (36). Adapun korban luka-luka adalah Ratna Budi Rahayu (5), anak dari pasangan Parmin dan Parmi. Bocah tersebut sempat dilarikan ke RSU Cepu.


Dijelaskan Bondan, sesuai dengan laporan dari camat setempat, angin topan juga terjadi di Desa Temengeng, Kecamatan Sambong. Di desa itu, sebuah rumah, yakni milik Rebo (50), juga roboh diterjang angin.


Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, hujan deras yang disertai angin lisus itu diperkirakan terjadi sekitar pukul 17.30. Seorang warga Cepu, Timbul, menginformasikan bahwa sejumlah pohon di daerah Kalimodang, Kecamatan Sambong tumbang dan melintang di jalan raya.


”Ini saya sebenarnya ingin ke Blora tapi terpaksa kembali lagi karena jalan raya tertutup pohon jati yang tumbang,” jelasnya, Selasa sore. (ud-71)