Tampilkan postingan dengan label upload Roes - SR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label upload Roes - SR. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Januari 2010

Radar Bojonegoro -DANA PILBUP BLORA


[ Jum'at, 01 Januari 2010 ]

Jamin Pilkada Blora Tepat Waktu

 

 

BLORA - Bupati Blora Yudhi Sancoyo menjamin pelaksanaan pilkada tepat waktu sesuai pentahapan yang dilakukan KPUK setempat. Menurut dia, pemkab bersama DPRD berkomitmen menyetujui dana yang dibutuhkan dalam pilkada melalui APBD 2010.

 

''Tidak ada alasan menunda pemilu kada. Sebab dana yang dibutuhkan akan dianggarkan dalam APBD,'' ujarnya menjawab pertanyaan munculnya wacana penundaan pilkada di sejumlah daerah di Indonesia lantaran pemkab setempat tidak memiliki dana yang cukup.

 

Menurut Yudhi, masyarakat Blora mengetahui pilkada akan dilaksanakan 3 Juni 2010. Jadwal tersebut berdasarkan pentahapan yang ditetapkan KPUK setempat. ''Kalau sampai ditunda, tentu masyarakat akan kesulitan menyesuaikan waktu lagi,'' imbuhnya.

 

Dia menuturkan, dana yang dibutuhkan KPUK dalam penyelenggaraan pilkada telah dimasukan dalam draf APBD 2010 yang segera dibahas DPRD. Dana tersebut antara lain untuk honor penyelenggara pilkada. ''Yang diajukan sekitar Rp 14 miliar. Dalam perubahan APBD 2009 juga telah dianggarkan dana untuk penyelenggaraan beberapa kegiatan tahapan pilkada Rp 800 juta lebih,'' kata Sudarmo, asisten III pemkab setempat.

 

Penganggaran dana pilkada dalam APBD 2010, lanjut dia, akan berdampak pada pengurangan dana di beberapa mata anggaran di pos lain. Dia mencontohkan sebuah rumah tangga. ''Ketika dibutuhkan dana untuk kegiatan tertentu, maka dana untuk kegiatan lain akan dikurangi agar kegiatan yang menjadi prioritas itu bisa terlaksana dengan baik. Intinya kita siap,'' katanya.

 

Dukungan di Atas Batas Minimal Lebih Berpeluang

 

Pasangan bacabup dan bacawabup dari jalur independen di Lamongan diminta menyerahkan jumlah dukungan lebih dari batas minimal ke KPUK setempat, 25-30 Januari nanti. Tujuannya, biar peluang lolos bakal calon tersebut lebih terbuka.

 

Menurut anggota KPUK Lamongan Tasir, sesuai peraturan KPU Nomor 15/2007, sebuah pasangan bacabup-bacawabup dari jalur independen diwajibkan mendapat dukungan 3 persen dari jumlah penduduk Lamongan. Per 30 Oktober lalu, jumlah penduduk Lamongan mencapai 1.458.910 jiwa. ''Kalau bisa, suara dukungan itu lebih dari 43.767 orang. Meski saat memasuki tahapan pilkada nanti diverifikasi akhir jumlah itu, tapi saya perkirakan tidak terpaut jauh,'' ujarnya.

 

Tasir menjelaskan, jumlah dukungan tersebut nanti diverifikasi mulai tingkat PPS. ''Jika jumlah yang diberikan melebihi batas minimal, kalau ternyata dalam verifikasi itu ada dukungan yan tidak sah dan harus dikurangi jumlah dukungan itu, tentu yang sah tidak sampai di bawah batas minimal dan calon tersebut bisa lolos. Tapi kalau yang diserahkan sesuai batas minimal, kalau ternyata ada pengurangan karena tidak sah, tentu akan mengancam calon menjadi tidak lolos pencalonan,'' jelasnya.

 

Seperti diberitakan, dukungan terhadap calon independen harus berasal dari warga yang mempunyai hak pilih dibuktikan dengan pengumpulan fotokopi KTP dan tanda tangan asli dari setiap warga. Dukungan tersebut harus tersebar minimal di 50 persen kecamatan atau 14 kecamatan di Lamongan. (ono/feb)

Senin, 19 Oktober 2009

Pesisir Timur - RADIKALISME


Monday, 19 October 2009

 

Pemahaman agama sempit picu radikalisme

 

BLORA - Ada yang mengaku beriman tetapi tidak peka terhadap kehidupan lingkungan. Dari kondisi tersebut kehidupan orang beriman belumlah bisa dikatakan sempurna. Ini salah satu inti isi sarasehan lintas agama di gedung serba guna Nahdlatul Ulama (NU) Blora, kemarin, dalam rangka ulang tahun ke- 40 gereja Katholik Santo Pius Blora.

 

Hadir dua nara sumber, Romo Heru Prakosa, dosen Fakultas Filsafat dan Theologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dan Soffa Ihsan, salah satu penulis buku kelahiran kota sate.

 

Tidak hanya umat katholik, peserta yang hadir terdiri sejumlah tokoh muda dan tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, organisasi mahasiswa dan lainnya.

 

Menurut Soffa Ihsan, penulis kelahiran Blora, dalam catatan sejarah agama-agama terlahir sebagai gerakan kritik terhadap berbagai bentuk kekerasan dan penindasan atas hak-hak asasi manusia yang terjadi di masyarakat.

 

”Contohnya Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad, bukan saja sebagai peletak agama besar dunia, namun juga pejuang hak-hak asasi manusia dan pengayom masyarakat,” katanya memaparkan.

 

Agama itu untuk manusia, bukan sebaliknya, sehingga agamanya mestinya mengikat manusia untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan hanya menyembah ritual, namun mempunyai dimensi sosial yang tinggi.

 

Radikal

Maka, katanya, fungsi agama bisa benar-benar menjadi pengayom dan pelindung di dunia, meski saat ini fungsi agama sudah mulai memudar, termasuk akibat sempitnya pemahaman agama menimbulkan gerakan radikal yang mengarah terorisme.

 

Pendapat sama diungkap Romo Heru Prakosa. Lelaki yang aktif dalam kegiatan dialog antariman ini menyebut, gereja dan umat mestinya tidak hanya bergerak di seputar altar, yakni hanya melulu ritual seperti doa, koor, ibadat dan lainnya.

 

Jadi harus mulai bergerak di wilayah latar pada dimensi yang lebih luas lagi dengan menyentuh kehidupan sosial yang nyata seperti ranah politik dan kemasyarakatan. Juga harus menyentuh wilayah pasar, mulai ekonomi, sosial dan lainnya.

 

”Iman itu bukan hanya ritual, tapi bagaimana perwujudan kehidupan sosial secara langsung,” katanya.

 

Dikatakan, harus ada aksi, sebab kalau hanya dalam angan-angan, kemasyarakatan yang nyata selamanya tidak bisa tercapai. K.9-bg

 

 

Monday, 19 October 2009

 

1.000 pelajar ikuti pelatihan Kepanduan

 

BLORA - Sedikitnya 1.000 pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di bawah organisasi Muhammadiah se-Kabupaten Blora, kemarin, mengikuti pelatihan Kepanduan Hizbul Wathan (HW).

 

Acara yang digeber sehari penuh di GOR Mustika Blora, dibuka Bpati Blora RM Yudhi Sancoyo, dihadiri Ketua DPRD H Kusnanto. Pelajar yang masuk dalam program itu (Kepanduan) dilatih kedisiplinan, baris berbaris dan materi dasar lainnya oleh sejumlah instruktur.

 

Ketua HW Blora, Setyo Edi menjelaskan, kegiatan Kepanduan tersebut diberikan untuk pemahaman mengenai perjuangan tokoh bangsa terdahulu. Salah satunya Panglima Besar Jenderal Sudirman juga perintis HW.

 

Selain untuk memberikan latihan disiplin baik di sekolah maupun dikehidupan seharihari, lanjutnya, juga untuk meneruskan cita-cita pendahulu.  Kegiatan itu diikuti seksama oleh pelajar/peserta.

 

Sementara itu Bupati Yudhi Sancoyo, mengatakan, kalau kegiatan itu adalah kegiatan yang cukup bagus untuk membangun mental generasi muda di Blora. Selain itu dia minta kegiatan bisa dimanfaatkan untuk menimba ilmu sebanyakbanyak.

 

Selain membuka acara, Bupati Blora juga memberikan sejumlah bantuan. Setyo Edy menambahkan, dengan pelatihan sehari penuh itu bisa membuat para siswa benar-benar menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggungjawab.

 

Dalam praktik di lapangan, mereka dilatih baris berbaris, latihan kedisiplinan, kerjasama tim maupun materi kepanduan lainnya. Selingan digelar lomba bakiak raksasa. ”Tujuan membentuk kerja sama tim, ini sangat diperlukan untuk mewujudkan cita-cita bersama,” kata Setyo Edi. K.9-bg

Jumat, 26 Juni 2009

Harian Sore - TAMBAH KORBAN


Masih ada korban lain 
Jumat, 26 Juni 2009 

Wanita nikahi wanita
Masih ada korban lain


BLORA - Kasus Martini alias Agustin atau Rega begitu menyita perhatian masyarakat. Setelah kemarin dipindahkan dari tahanan Polsek Tunjungan ke Tahanan Polres Blora, Martini yang terlibat penipuan dengan mengaku laki-laki dititipkan di rumah tahanan (rutan) Blora.

’’Sementara Martini akan kami titipkan dulu di rutan Blora,” kata Kapolres Blora AKBP R Umar Faroq, melalui Kasat Reskrim Pri Haryadi.

Isu yang berkembang di masyarakat bahwa selain Dahlia (17) nama samaran, ada korban lagi seorang wanita, yang mengaku menjadi korban penipuan oleh Martini alis Agustin atau Rega. Dari informasi yang diperoleh wanita tersebut bekerja di salah satu pabrik yang ada di Blora. 

Ketika Wawasan bertemu dengan wanita yang engan disebutkan identitasnya itu, dia awalnya mengaku penasaran, tentang berita perempuan yang mengaku laki-laki. ’’Setelah lihat di foto teryata sama dengan orang yang pernah dia kenal dan menipunya karena mengaku laki-laki,” katanya, Kamis (25/6). 

Menurut wanita yang tinggal di Kecamatan Jepon ini, awal perkenalannya dengan Martini mirip dengan Dahlia. Berawal dari telepon salah sambung dan akhirnya selalu berhubungan. ’’Pertama kali bertemu Maret 2008. Saat itu janjian di Waduk Tempuran, saya tidak curiga apa-apa,” jelasnya.

Akhirnya, dari pertemuan itulah kemudian Martini diajak ke rumahnya. Menurut dia, hanya ibunya yang curiga kemudian mencari orang ’pintar’.  

"Setelah itu tidak pernah ketemu, terus mendengar kabarnya lagi dari koran," akunya. Namun dia enggan melaporkan hal itu kepada pihak kepolisian.

Ketika dikonfirmasi tentang adanya informasi tersebut, Kasat Reskrim AKP Pri Haryadi, mengaku belum mendengarnya. Namun pihak kepolisian akan terus mengembangkan kasus tersebut lebih jauh.

"Kasusnya akan dikembangkan, kalau memang ada yang melaporkan lagi selain korban, tentu akan ditindaklanjuti lebih jauh," ungkap Pri Haryadi.

Selain itu, lanjut dia, polisi juga mempertimbangkan privasi bagi keduanya, karena tentu akan mempengaruhi kondisi psikologisnya. "Terhadap pelaku, kami akan mengundang ahli agar bisa melakukan pemeriksaan terhadapnya," tambahnya.

Sementara itu, banyak warga yang kembali penasaran, mengapa kok sampai tidak ketahuan, kalau laki-laki tentu ada alat vitalnya? Begitu pertanyaan beberapa warga. Sehingga banyak yang penasaran ingin tahun bentuk alat vital yang dijadikan untuk menipu para wanita.

Seperti yang diberitakan, bahwa untuk mengelabui korban, Martini alias Agustin atau Rega membuat alat vital laki-laki dari kain bekas yang dibentuk sedemikian rupa mirip penis. Yang selalu dililitkan dibawah anggota badannya. Saat hendak melakukan hubungan seks, dia hanya bermodalkan jempol dan jarinya.

Untuk mengetahui secara pasti identitas Martini, Wawasan melakukan penelusuran di Kantor Catatan Sipil Blora. Dari data yang berhasil diperoleh bahwa tercatat bernama Martini, namun Nomor KTP-nya tidak ada.

Yang ada hanya Nomor Induk Kependudukan (NIK) 3316084107850027 yang lahir pada 1 Juli 1985. Tercantum dalam Kartu Kelurga (KK) atas nama Musaripno yang beralamatkan Desa Sumurboto 001/002, Kecamatan Jepon, Blora. Namanya teryata bukan Agustin yang selama ini dia akui. K.9-pu