Rabu, 03 Juni 2009

Tabloid SR - APBD Blora Diambang Batas Akhir







8 Juni, Perseteruan Ketua DPRD-Bupati Memuncak

BLORA, SR - Keterlambatan APBD Blora tahun 2009 secara langsung mengundang berbagai pendapat dari masyarakat. Hampir sebagian besar masyarakat setuju apa yang diusulkan Bupati ataupun hasil rekomendasi Gubenur Jateng, tentang pemerataan P2SE untuk seluruh desa se Kabupaten Blora yang berjumlah 271 desa.

Sebagaimana diketahui, evaluasi dari gubernur tentang RAPBD tidak membolehkan defisit Rp 24,5 miliar. Untuk itulah gubenur menyarankan revisi RAPBD tersebut. Tepatnya tanggal 8 Mei selesai dilakukan pembahasan ulang dan dikirim ke gubenur.


Namun menurut Bupati Blora Yudhi Sancoyo, pembahasan tersebut terutama P2SE, belum sesuai rekomendasi gubenur yakni agar ke 271 desa mendapat dana tersebut.

Dari sinilah pihaknya menilai karena dewan mengabaikan evaluasi dari gubenur, maka pihaknya belum menandatangani.


Direktur LSM Wong Cilik Ateng Sutarno membenarkan apa yang dilakukan Bupati Blora. Alasanya cukup sederhana yakni dana P2SE sebaiknya dibagi rata kepada 271 desa. “Terlepas apakah APBD sah dan tidaknya, saya sependapat dengan bupati, karena banyaknya desa 271 maka yang adil ya sebaiknya dapat semua,” katanya.


Sebenarnya Ateng sudah lega setelah mendengar kalau Bupati Blora dan Ketua DPRD sepakat dan setuju bahwa alokasi dana P2SE diratakan untuk 271 desa. Selanjutnya ditindaklanjuti Minggu (24/5), sejumlah anggota tim anggaran eksekutif yang dipimpin Sekda Ir H Bambang Sulistya berkoordinasi dengan dewan. Namun, mereka pulang dengan tangan hampa. Sebab, kalangaan dewan menyatakan tetap tidak menyetujui jika P2SE diratakan. “Biar masyarakat menilai, siapa yang tidak konsisten terhadap kesepakatannya,” tegas Ateng

Di tempat terpisah salah satu caleg terpilih Yantinah mengutarakan apa yang dilakukan bupati yang belum tanda tangan adalah benar. “Alasan Bupati yang minta agar P2SE diratakan itu bisa dimaklumi, karena dasarnya demi pemerataan pembangunan di Blora,” katanya.


Dia juga menjelaskan kalau UU di atasnya melarang maka perundangan di bawahnya harus mengikutinya. Kalau pun itu dilanggar adalah kewenangan institusi hukum yakni MK untuk memutuskannya.

“Yang saya tahu secara yuridis kewenangan Warsit hilang setelah divonis PN bersalah walau sampai sekarang masih dalam proses banding. Dan yang lebih jelas ya pada PP 25/2004 tentang Pedoman dan Penyusunan Tatib DPRD pasal 45 ayat 2,” jelasnya


Ketika ditanya apakah dirinya dari partai yang sama dengan bupati sehingga mendukung langkahnya, dia menjawab jangan dikaitkan. “Ini sebagai pendapat pribadi saya, sekarang saya ganti bertanya pada anda. Apakah SKPD sanggup menunggu pengesahan APBD oleh anggota DPRD yang baru,” tandas Yantinah.


Komentar berbeda disampaikan calon legislatif terpilih dari Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) Kabupaten Blora, Sugeng Hariyanto. Sugeng berharap ada komunikasi yang intens antara eksekutif dan legislatif terutama dalam konteks ploting dana P2SE. “Ini hanya persoalan sudut pandang yang berbeda saja. Kan hanya persoalan dana Rp 38 Miliar itu mau dibagi kepada 200 desa atau 271 desa. Saya kira jika sama-sama mau berpikir jernih, masalah ini cepat selesai,” ungkapnya kepada SR, Selasa (26/5).


Hal senada disampaikan caleg terpilih dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Kabupaten Blora, HM. Hasan. Menurutnya, jika mau berpikir untuk kepentingan rakyat, mestinya APBD segera ditetapkan. “Jika tidak mau menetapkan, ya sebaiknya wayangan saja biar tambah menarik,” ungkap calon dari Dapil V (Todanan, Kunduran, dan Japah).


Sementara di tempat terpisah ketua DPRD Blora HM Warsit dalam keterangan persnya tetap bersikukuh dengan 200 desa saja yang mendapat dana P2SE. Alasan ketua DPRD Blora yang menjabat tinggal satu setengah bulan lagi adalah pengeplotan dana tersebut sudah ditetapkan DPRD pada RAPBD, sehingga untuk mengubahnya tidak sesederhana yang dibayangkan.


“Sebab, hal itu sudah menjadi ketetapan. Untuk mengubahnya harus sesuai dengan aturan yang ada. Misalnya harus ada panitia musyawarah (panmus), pembahasan bersama dengan tim anggaran eksekutif dan lain-lain,’’ jelasnya.


Warsit juga menandaskan agar bupati mau tanda tangan dulu sehingga APBD bisa segera ditetapkan. Apabila nanti kalau memang menghendaki perubahan bisa dilakukan melalui DPRD review. (Roes)

LINTAS MURIA - SENGKETA PEMILU


03 Juni 2009
Tunggu Putusan Mahkamah Konstitusi 
BLORA - Rabu (2/6) ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Blora tidak lagi menghadiri sidang gugatan PDI-P di Mahkamah Konstitusi di Jakarta. Sebab, MK belum menentukan jadwal sidang lanjutan perselisihan hasil perolehan suara pemilu legislatif di Daerah Pemilihan (Dapil) IV Blora (Kecamatan Ngawen, Tunjungan, dan Banjarejo). 

Sidang di MK dengan perkara gugatan PDI-P Blora termasuk Jateng, sebelumnya dilaksanakan pada hari Rabu setiap pekan. Sidang sudah digelar dua kali. 

Pertama, Rabu (20/5), beragendakan pemeriksaan perkara termasuk tanggapan KPU atas gugatan yang diajukan PDI-P. Kedua, Rabu (27/5), persidangan yang dipimpin oleh Ketua MK Mahfud MD itu beragendakan pemeriksaan saksi dan barang bukti. ”Untuk sidang berikutnya, kami belum diberitahu jadwalnya. Termasuk agenda sidangnya apa,” ujar Ketua KPU Blora Moesafa, kemarin. 

Dia mengemukakan, biasanya setelah digelar sidang, majelis hakim memberitahukan jadwal sidang dan agendanya kepada pemohon (PDI-P) dan termohon (KPU Pusat) serta ikut termohon (KPU Blora). Namun, ucap Moesafa, saat sidang kedua, Rabu (27/5), pemberitahuan itu tidak disampaikan. ”Waktu itu kami bertanya kepada panitera di MK, sidang berikutnya kapan. Mereka hanya menjawab, pemberitahuan menyusul,” ungkapnya. 

Moesafa yang juga ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Blora memperkirakan, agenda sidang berikutnya adalah pembacaan putusan. 
Optimistis Menang Dia menekankan, dengan bukti dan keterangan saksi yang dihadirkan di persidangan, KPU Blora optimistis putusan MK tidak mengubah hasil penghitungan suara pemilu legislatif di Blora. 

Sebagaimana diberitakan, PDI-P Blora mendaftarkan gugatan ke MK. Hanya gugatan yang disampaikan melalui DPP PDI-P di Jakarta itu tidak semata-mata mempersoalkan perolehan suara partai itu di Blora melainkan juga perolehan suara partai secara umum. 

Sebab PDI-P menilai, terdapat perbedaan jumlah suara antara hasil rekapitulasi KPU dan internal partai. Selisih suara yang dipersoalkan tersebut terjadi di Dapil IV. Jika gugatan itu dikabulkan MK, PDI-P akan mendapat tambahan satu kursi di DPRD Blora. (H18-69)


Selasa, 02 Juni 2009

Lintas Muria - TABRAKAN KA


02 Juni 2009
Pos Penjagaan Perlintasan KA Hancur

KA Sembrani Tabrak Crane

BLORA - Kecelakaan kereta api (KA) kembali terjadi. KA Sembrani jurusan Surabaya-Jakarta menabrak crane (alat berat) di perlintasan KA di Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban, Blora, Minggu (31/5) sekitar pukul 21.30. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun, sebuah pos penjagaan perlintasan KA rusak parah setelah dihantam ujung crane yang sebelumnya ditambrak KA. 

Crane milik perusahaan kontraktor minyak itu pun rusak parah. Kecelakaan tersebut juga sempat mengakibatkan terganggunya jadwal keberangkatan kereta beberapa jam. Sebab, lokomotif KA Sembrani anjlok dan harus dievakuasi ke stasiun terdekat. 

Salah seorang penumpang KA Argo Bromo menginformasikan, kereta yang ditumpanginya sekitar pukul 22.30 tertahan di Stasiun Cepu karena anjloknya KA Sembrani. “Mulai pukul 02.00 Senin dini hari, jalur kereta sudah lancar,” ujar Kapolres Blora AKBP R Umar Faroq melalui Kapolsek Kedungtuban AKP Sunarno, kemarin. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden kecelakaan itu bermula saat alat berat crane melintasi rel KA di pos perlintasan Wado menuju lokasi pengeboran minyak di Desa Pulo, Kecamatan Kedungtuban. 

Operator crane, Wiyantono (47), meminta izin penjaga pelintasan, Suparno, untuk menyeberang perlintasan. Namun belum separo bagian crane melewati rel, muncul KA Sembrani dari arah Stasiun Cepu. Suparno sempat memerintahkan operator crane untuk mundur. Perintah itu pun dilaksanakan. 

Berjalan Lambat

Diduga karena crena berjalan lambat, tidak semua bagian crane berhasil menghindari tabrakan, sehingga ujung crane tertabrak KA Sembrani dan terpental menghantam pos penjagaan perlintasan. Kuatnya benturan menyebabkan pos tersebut rusak parah. Selain itu, loko kereta anjlok. 

Sepuluh gerbong kereta Sembrani dan penumpangnya dievakuasi ke Stasiun Wado yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat kejadian perkara (TKP). Mereka pun tertahan beberapa lama di tempat itu. Gerbong dan para penumpang tersebut melanjutkan perjalanan ke Jakarta setelah datang loko cadangan. 

Kapolsek Kedungtuban AKP Sunarno mengatakan, hingga kemarin pihaknya masih melakukan penyelidikan kecelakaan tersebut. Sejumlah saksi masih dimintai keterangan. “Belum ada tersangka dalam kecelakaan itu,” tandasnya. (H18-71)

Agen Minyak Tanah Diprioritaskan

BLORA - Program konversi minyak tanah ke gas elpiji tidak akan mengubah status agen minyak tanah di Blora. Sebab, Pemkab memprioritaskan mereka menjadi agen elpiji.

Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Blora Wahyu Agustini mengemukakan, pihaknya telah mengomunikasikan kebijakan itu kepada instansi yang melaksanakan konversi. 

”Yang mendapat prioritas pertama menjadi agen elpiji adalah para agen minyak tanah. Baru setelah itu, jika dianggap jumlah agen masih belum cukup, akan ditunjuk agen baru,” paparnya, kemarin. 

Dia mengakui, cukup banyak warga yang berminat menjadi agen elpiji. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, sejumlah kepala desa (kades) di Blora mengusulkan minimal di setiap desa ada satu agen. 

Hal itu bertujuan agar warga semakin mudah mendapatkan elpiji saat konversi dilaksanakan. Wahyu Agustini yang juga mantan Camat Bogorejo menyebutkan, pengajuan menjadi agen baru tersebut langsung ke Pertamina 
”Apa saja persyaratan menjadi agen baru, Pertamina yang lebih tahu,” tuturnya. 

Dia mengungkapkan, belum tahu persis kapan konversi minyak tanah ke gas elpiji, yang ditandai dengan distribusi paket bantuan berupa kompor dan tabung elpiji, akan dilaksanakan di Blora. (H18-69)


01 Juni 2009
Woro woro
PPL Terancam Dipecat

BLORA - Sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) terkait dengan gugatan hasil pemilihan umum legislatif (pileg) oleh PDI-P Blora bakal memakan korban. Pengawas Pemilu Lapangan (PPL) Desa Gempol, Kecamatan Tunjungan, Edi Puji Raharjo, terancam dipecat dari jabatannya. Dia diduga menjadi saksi dalam sidang gugatan tersebut, Rabu (27/5), tanpa sepengetahuan dan izin dari Badan Pengawas (Bawas) Pemilu pusat. 

Ketua Panwas Pemilu Blora Wahono yang didampingi Divisi Pengaduan Kudnati Saputro mengatakan, pihaknya mendapatkan informasi bahwa Edi Puji menjadi saksi pihak pemohon gugatan di MK, PDI-P. Kehadiran Edi Puji di Jakarta itu tanpa sepengetahuan dan izin dari Bawas Pemilu. Padahal, menurut Wahono, Bawas telah mengirim surat ke Panwas kabupaten/kota menyikapi digelarnya sidang gugatan pemilu di MK.  

Dalam surat No 072/Bawaslu/V/2009 bertanggal 25 Mei itu disebutkan, anggota Panwas Pemilu Provinsi, Panwas Pemilu Kabupaten/Kota, Panwas Pemilu Kecamatan, dan PPL hanya diperkenankan hadir dan memberikan kesaksian di MK setelah mendapat perintah tugas dari Bawas Pemilu. (H18-71)


Tabloid SR - YANG TERSISA TRAGEDI HERKULES



Satu Warga Cepu, Blora Korban Tragedi Hercules
Saudara punya firasat giginya rontok selama tiga hari

Meski tampak tegar dan tabah Lettu Nyawungtyas (27) tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat jenasah suaminya diberangkatkan menuju TMP Cepu. Suaminya adalah Mayor Andi Kristiawan merupakan salah satu korban tewas jatuhnya pesawat Herkules C-130 di Desa Geplak Kecamatan Karas, Magetan. 


Pria asli Cepu, Blora itu tercatat sebagai Komandan Satkomlek Kosek II Kohanas Ujung Pandang dan jabatan itu baru dijabatnya selama satu bulan. Sebelum bertugas di Ujung Pandang Andi pernah bertugas di Aceh dan Jakarta sebelum akhirnya mendapat promosi di Makassar. 

Nyawungtyas yang pagi itu baru datang dari Jakarta bersama keluarganya langsung pingsan saat melihat peti jenasah suaminya yang terbungkus kain merah putih. Sehingga beberapa kerabat langung memapahnya agar tidak jatuh. 
Sementara anakya semata wayangnya yang baru berumur lima bulan Wikanditya terus menangis dalam gendongan tantenya. Sampai jenasah diberangkatkan perempuan yang bertugas di RS AL Jakarta ini terus dipapah sampai TMP Cepu. 

Informasi yang dihimpun SR, Mayor Andi ikut dalam pesawat Hercules tersebut sebenarnya akan kembali ke Makasar untuk melaksanakan tugas, setelah libur dari Jakarta untuk menengok anak dan istrinya. Selama ini Andi memang tinggal di Jakarta sementara orang tuanya ada di Cepu.

“Setelah pulang menengok anak dan istrinya, dia kembali dengan menumpang Hercules, tapi akhirnya malah pulang selamanya,” kata Andi (45) salah satu saudaranya yang datang dari Jakarta, Jum’at (21/5).

Karier Mayor Andi Kristiawan di AU tergolong cukup bagus, pasalnya baru sembilan tahun bertugas pangkat mayor sudah dia genggam. Dia masuk pada tahun 2000 lewat jalur perwira karier dari jenjang Sarjana.
Sementara itu Joko, paman Andi yang dari Blora kepada SR menceritakan, bahwa firasat buruk itu malah datang dari Istri Joko yang tinggal di Blora. Istrinya sempat cerita kalau selama tiga hari berturut-turut bermimpi soal giginya yang rontok. 

“Istri saya mimpi kalau giginya rontok, saya juga tidak ada pikiran lain soalnya keluarga di Blora juga baik-baik, eh tak tahunya malah Andi yang pergi,” ujarnya di sela-sela keberangkatan jenasah.

Berita perihal kematian Andi menurut Joko diperoleh kabar dari adik korban yang saat itu melihat di TV kalau ada pesawat Hercules yang jatuh, kemudian Joko langsung menelepon korban namun tidak diangkat lalu menghubungi AU di Jakarta dan benar kalau benar korban ada dalam pesawat tersebut.

“Tahu kabar itu saya langsung menuju Magetan untuk mencari korban sendiri mas, beruntung saat itu saya bisa langsung menemukan dan kondisi korban yang masih utuh,” jelasnya.

Menurutnya saat pencarian jenasah itu, banyak dia jumpai tubuh penumpang lainnya sudah banyak yang berserakan bahkan bau yang tercium olehnya bau tubuh manusia yang terbakar. Bahkan Joko sempat melihat ada korban lainnya yang mati terbakar dengan masih mendekap mobil-mobilan yang mungkin oleh-oleh buat anaknya. “Itulah kuasa Tuhan mas, apapun bisa terjadi,” imbuhnya. (Gie)


Senin, 01 Juni 2009

RadarBOJONEGORO


[ Senin, 01 Juni 2009 ] 
Tunggu Putusan MK 
BLORA - Selangkah lagi kasus gugatan sengketa pemilu antara pemohon DPC PDIP Blora dengan termohon KPU pusat dan turut termohon KPUD Jawa Tengah dan KPUK Blora bakal tuntas. Sebab, masing-masing pihak telah menjalani dua kali sidang. Sehingga, sidang ketiga nanti diperkirakan bakal mengagendakan pembacaan putusan majelis hakim di Mahkamah Konstitusi (MK).

Ketua KPUK Blora Moesafa mengatakan, pada sidang kedua yang dilaksanakan 27 Mei lalu memiliki dua agenda. Yakni, mendengarkan keterangan saksi dan pembuktian. ''Jadi, masing-masing pihak menyetorkan bukti rekapitulasi yang dimiliki,'' ujar dia kepada wartawan koran ini kemarin.

Masing-masing pihak, lanjut Safa, tetap bersikukuh pada hasil rekap masing-masing. Yakni, pihak pemohon menggunakan hasil rekapitulasi yang dimiliki internal partai. Sementara, pihak termohon danturut termohon membeber hasil rekapitulasi hasil penghitungan suara di tingkat kabupaten.

Lantas? Menurut Safa, dipenghujung sidang tersebut majelis hakim tidak menyebut kapan waktu sidang berikutnya. hal iniberbeda dengan saat sidang pertama 20 Mei lalu. Dimana, saat itu majelis hakim menyatakan sidang akan dilanjutkan pada tanggal 27 Juli. ''Kami hanya diberitahu bahwa pelaksanaan sidang berikutnya akan diinformasikan melalui telepon,'' tuturnya.

Safa menjelaskan, permohonan gugatan yang diajukan DPC PDIP Blora itu terkait perbedaan hasil rekapitulasi pemungutan suara di Daerah Pemilihan (dapil) IV. Khususnya di Kecamatan Banjarejo. Dimana, lanjut dia, terdapat selisih sekitar 30 suara antara hasil rekap yang dimiliki KPUK dan DPC PDIP setempat.

Berdasarkan klaim rekap yang dimiliki DPC PDIP itu, lanjut dia, mestinya PDIP mendapat tambahan satu kursi hasil suara sisa terakhir di dapil setempat. Sebaliknya, sesuai hasil rekap KPUK, kursi sisa terakhir di dapil tersebut menjadi milik PPDI. Namun, saat ditanya rincian perolehan suara masing-masing parpol tersebut serta hasil rekap KPUK, Safa mengaku tidak ingat. (dim)


[ Senin, 01 Juni 2009 ] 
APBN Cair, APBD Belum Jelas 
Tunjangan Fungsional untuk GTT 


BLORA - Ribuan guru tidak tetap (GTT) di Blora yang tidak masuk daftar penerima tunjangan fungsional dari APBN harus bersabar. Meski dipastikan mendapat alokasi anggaran dari APBD provinsi dan kabupaten, namun, belum diperoleh kepastian kapan dana itu cair. Padahal, mulai pekan lalu tunjangan fungsional dari APBN telah dicairkan.

Kasi Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPTK) Suparlan mengatakan, karena sumber anggarannya berbeda, maka waktu pencairannyapun tak dapat dilakukan secara bersamaan. Hal itu, lanjut dia, tergantung pada kesiapan anggaran di masing-masing daerah. ''Wah belum tahu mas, lha wong APBD (Blora, Red) sekarang saja belum ada yang dicairkan,'' ujar dia saat ditanya kesiapan pencairan dana tunjangan fungsional dari APBD setempat.

Parlan, panggilan Suparlan, menjelaskan, sesuai data yang ada, jumlah GTT yang masuk daftar penerima tunjangan fungsional dari APBN sebanyak 1.936 orang. Padahal, di Blora terdapat lebih dari 4.800 GTT, mereka mulai dari guru TK hingga SLTA. Untuk itu, pihaknay mengusulkan agar GTT yang tidak tercover APBN dimasukkan dalam daftar GTT penerima tunjangan fungsional dari APBD Provinsi Jawa tengah.

Alhasil, ternyata Dinas P dan K Jawa Tengah hanya mengakomodir 852 GTT diantaranya. Sehingga, sisanya sejumlah 2 ribu lebih GTT harus menjadi tanggungan APBD kabupaten. Lantaran sumber anggaran yang berbeda, besaran dana tunjangan fungsional yang diterima juga tak sama. ''Untuk GTT yang mendapat alokasi dari APBN mendapat Rp 200 ribu per bulan selama 12 bulan. GTT yang masuk alokasi APBD mendapat Rp 150 ribu per bulan kali 13 bulan, serta GTT alokasi APBD kabupaten mendapat Rp 150 ribu kli 12 bulan,'' terangnya.

Sementara itu, pencairan dana tunjangan fungsional dari APBN telah dimulai Kamis pekan lalu. Pencairan itu bakal dilakukan secara bertahap untuk 16 Kecamatan di Blora hingga 10 Juni mendatang. Pencairan yang langsung dilakukan Bank Pembangunan daerah (BPD) Jawa Tengah itu untuk pencairan tri wulan pertama 2009. (dim)


[ Senin, 01 Juni 2009 ] 
Jatah Pupuk Bisa Dimajukan 
BLORA - Setelah menerima tambahan pupuk, petani dimudahkan untuk memperolah pupuk pada musim tanam ini.Jika masih kurang, mereka bisa menerima pupuk jatah mereka sendiri untuk bulan-bulan berikutnya. Misalnya jatah untuk bulan Juli da Agustus bisa diambil sekarang. ''Maksimal jatah empat bulan bisa diminta di depan,'' ujar Suharno, Kepala Seksi Perdagangan Dalam dam Luar Negeri Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi.

Meski demikian, kata dia, pemberian pupuk tetap mengacu pada aturan yang ada, yakni melalui rencan definitive kebutuhan kelompok (RDKK) yang sudah diajukan oleh kelompok tani. Memajukan jadwal pencairan jatah pupuk itu, kata dia, untuk menolong petani agar selama musim tanam mereka memperoleh pupuk yang diharapkan. ''KArena jatahnya diambil di depan, bulan selanjutnya jatahnya juga kurang,'' tambahnya.

Suharno mengatakan, tahun ini Gubernur Jateng memberikan tambahan alokasi sekitar 11 ribu ton. Berdasarkan peraturan gubernur nomor 136 tahun 2008 sebelumnya berjumlah 39.971 ton. Dengan tambahan sekitar 11 ton, berarti pupuk urea untuk petani Blora tahun ini sekitar 50.071 ribu ton. 

Dengan naiknya alokasi tersebut, kata dia, petani di lahan hutan akan mendapatkan pupuk urea bersubsidi. Menurutnya, Pemkab Blora beberapa kali meminta kepada Pemprov Jateng agar petani yang menggarap lahan di sekitar hutan memperoleh alokasi pupuk. Sebab mereka juga membutuhkan pupuk sama seperti petani lainnya. ''Berapa alokasi pupuk untuk petani hutan, akan diatur lebih lanjut,'' katanya. 

Menurut dia, tidak ada peraturan yang melarang petani di lahan hutan mendapatkan pupuk urea bersubsidi. Petani di lahan hutan sama seperti petani lainnya. Kelompok tani, terang dia, adalah kumpulan petani yang mempunyai kesamaan kepentingan dalam memanfaatkan sumber daya pertanian untuk bekerjasama meningkatkan produktivitas usaha tani dan kesejahteraan anggotanya. Namun, dalam mengusahakan lahan usaha tani secara bersama pada satu hamparan atau kawasan, lanjutnya, dikukuhkan oleh bupati atau pejabat yang ditunjuk. ''Petani hutan juga berhak mendapatkan pupuk urea bersubsidi. Sebab mereka juga mengusahakan tanam pertanian,'' ungkapnya. (ono)


[ Senin, 01 Juni 2009 ] 
Nama Dicatut Penipu 
BLORA - Kepala Bagian Umum dan Perlengkapan Purwanto beberapa hari lalu sempat 'nesu'. Sebab, namanya digunakan seseorang untuk menipu seorang pengusah catering di Blora. Beruntung, uang belasan juta yang sudah terlanjut ditransfer itu masih bisa dibolkir, sehingga pengusaha itu luput dari aksi penipuan. ''Iya, nama saya dicatut, makanya kami minta para pengusaha berhati-hati,'' katanya.

Sebagai kabag umum, dia mengaku memang selalu berhubungan dengan para pengusaha catering atau makanan. Sebab, dia sering memesan makanan atau makanan ringan untuk berbagai acara yang digelar pemkab. Hal itulah yang dimanfaatkan penipu tersebut. Sehingga hampir saja memakan korban. ''Padahal pengusaha yang ditelepon itu sudah hafal saya, sudah tahu nomor HP saya. Namun, saat ditelepon dengan nomor lain kok percaya,'' tambahnya. 

Kejadian itu, jelasnya, saat seorang pengusaha catering ditelepon seseorang yang mengaku sebagai dia. Dengan alasan akan acara yang didatangi pejabat dari propinsi, kabag umum palsu itu memesan catering dalam jumlah besar. Seperti biasanya, pemesanan dengan partai besar ada fee untuk pemesan. ''Fee itu diminta utuk dikirim dulu, dengan alasan macam-macam. Ternyata catering itu percaya saja sehingga mengirim ke rekening yang disebutkan,'' tuturnya.

Setelah di cek ke pemkab, ternyata tidak ada acara besar yang akan didatangi para pejabat provinsi. Sehingga pengusaha catering sadar sebagai korban penipuan. Karena itu, dia minta jika ada telepon seperti itu, yang ujung-ujungnya minta uang, jangan mudah percaya dan segera koordinasi dengan pemkab. ''Saya katakana pada catering langganan, kalau tidak ada utusan yang datang langsung jangan dipercaya,'' tandasnya. (ono)


[ Senin, 01 Juni 2009 ] 
Minta Perhatian Disdik 
BLORA - Merasa ikut membantu pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan, yayasan Baitunnur meminta perhatian Dinas Pendidikan (disdik) setempat. Sebab, pengelola SD Baitunnur tersebut mengaku saat ini kekurangan fasilitas untuk menampung anak didik yang terus membanjir. ''Kami hanya mampu menyediakan satu kelas, padahal, animo masyarakat bisa sampai tiga kelas,'' ujar Abdul Ghoni, penanggungjawab yayasan tersebut. 

Karena itu, mantan wakil ketua DPRD Blora itu meminta disdik memerhatikan dengan jalan memberikan bantuan fasilitas tersebut. Dia mengaku, sekolah yang berdiri sejak tiga tahun lalu itu terus kebanjiran murid. Saat ini baru ada empat kelas, yakni kelas satu dua kelas, kelas dua dan tiga masing-masing hanya satu kelas. ''Kalau diterima semua, kelas satu bisa empat kelas,'' tambahnya.

Sekolah yang dikelola yayasannya, itu merupakan sekolah plus. Yakni selain pelajaran umum, diperbanyak dengan muatan lokal keagamaan. Sehingga banyak orang tua yang tertarik dan menyekolahkan anaknya ke sekolag tersebut. Setiap kelas, kata dia, juga hanya diisi 25 siswa, sehingga proses belajar mengajar nyaman.''Kami sudah mengajukan ke disdik, namun belum ada jawabn.'' Katanya. (ono)

[ Senin, 01 Juni 2009 ] 
Terpilih Jadi Anggota Dewan Tiga Kades Segera Diberhentikan 
BLORA - Karena terpilih menjadi anggota DPRD pada pemilu legislatif (pileg) lalu, tiga Kepala Desa (Kades) di wilayah Blora yakni, Sukirno Kades Prantaan Kecamatan Bogorejo, Joko Mugiyanto Kades Sitirejo Kecamatan Tunjungan dan Subroto Kades Kacangan Kecamatan Todanan segera diberhentikan dari jababatnnya. ''Pemberhentian itu memunggu pelantikan (anggota Dewan),'' ujar Kepala Bagian Pemerintahan Desa Riyanto.

Dia menyebutkan, sebelumnya, tiga kades itu mengajukan ijin cuti ke bupati karena menjadi caleg. Sehingga bupati kemudian memberikan surat pemberhentian sementara pada tiga Kades itu. Menurut dia, berhenti sementara dari jabatan kades dan mengundurkan diri sebagai perangkat desa merupakan konsekuensi yang harus dipilih para caleg. Hal itu, lanjutnya, sesuai dengan surat edaran (SE) Menter Dalam Negeri nomor 140/2661/SJ bertanggal 2 September 2008. Isi dalam SE itu mengatur penonaktifan kades dan memberhentikan perangkat desa jika maju sebagai caleg dalam pemilihan umum (pemilu). ''Jadi, mereka (kades) sudah tahu aturan mainnya bagaimana,'' tambahnya.

Tiga Kades itu, sesuai penetapan hasil pemilu oleh KPUK memang terpilih menjadi anggota dewan. Dua Kades berangkat dari Partai Demokrat yakni Sukirno yang berangkat dari daerah pemilihan satu mendapat suara 3.597 suara. Kemudian Joko Mugiyanto dari dapil empat meraup 5.031 suara. Sedangkan Subroto berangkat dari Partai Golkar di dapil lima meraih dukungan 7.889 suara.

Aturan mengenai Kades dan perangkat desa yang menjadi caleg memang berbeda. Kalau Kades cukup mengajukan cuti dan diberi pemberhatian sementara selama mengikuti pileg. Kades yang tidak terpilih menjadi anggota DPRD akan menduduki jabatannya kembali sebagai kades. Sedangkan perangkat desa harus mengundurkan diri dari jabatannya jika ingin nyaleg. Karena sudah mengundurkan diri, kata mantan Camat Kedungtuban ini, yang bersangkutan tidak bisa lagi menjabat perangkat desa jika gagal menjadi anggota DPRD. ''Perangkat desa sudah berfikir matang ketika memutuskan menjadi caleg. Karena ada juga perangkat desa yang mundur dari caleg dan lebih memilih menjadi perangkat desa,'' terangnya.

Setelah proses di DPRD selesai, katanya, nanti pemkab yang memroses pemberhentian kades tersebut, dan pengisian kades yang baru. ''Yang jelas dalam waktu dekat ini proses itu akan dilaksanakan,'' tandasnya. (ono)

[ Senin, 01 Juni 2009 ] 
Sebagian Besar PPDP Tidak Ber SK 
BLORA - Ternyata, petugas pemutakhiran data pemilih (PPDP) yang telah bekerja mendata calon pemilih pilpres banyak yang tidak mengantongi surat keputusan (SK). Sehingga kinerja merek dipertanyakan, apakah mereka mendata secaa benar atau tidak. Data di Panwaslu, di Kecamatan Cepu semua PPDIP tidak mempunyai SK. ''Ini hasil temuan kami di lapangan. Bahwa sekitar 70 persen PPDP tidak ada SK dan surat tugasnya saat bekerja,'' kata ketua Panwaslu Blora Wahono, kemarin.

Hal itu, kata dia, menunjukkan lemanhnya kinerja di KPUK. Sebab, dengan tidak adanya Sk dan surat tugas yang resmi, di khawatir kinerja di lapangan buruk. Wahono menduga akibat kesalahan itulah pada DPS lalu masih ditemukan data pemilih yang bermasalah. Nama-nama yang sudha direkomendasi di pileg agar dicoretm ternyata muncul lagi di FPS pilpres. ''Kalau seperti itu, siapa yang menjamin PPDIP mendatangi langsung rumah-rumah warga,'' tambahnya.

Selain Kecamatan Cepu yang semua PPDP nya tidak ber SK, di kecamatan yang lain juga ditemukan banyak sekalu PPDP yang bekerja tanpa disertai legalitas. Meski tidak semuanya, di semua kecamatan ditemukan ada PPDP yang tidak mempunyai SK dna surat tugas ketika menjalankan tugas. Kejadian itu, menurut ketua Pengcap Perpani ini, mengindisikan adanya penyelewengan di lapangan. ''Sebab, kami juga menerima laporan bahwa ada petugas PPDP yang hanya namanya saja tercantum. Namun dia tidak menjalankan tugas dan tidak menerima honor,'' ungkapnya.

Karena itu, lanjutnya, Panwaslu minta KPUK mencermati dan serius dalam menyiapkan tenaganya di lapangan. Sehingga kejadian semacam itu tidak terulang lagi. Karena tidak ada surat tugas dan SK, dia mengibaratkan siapa saja bisa mengaku sebagai PPDP. Karena tidak identitas khusus. ''Wong stiker tanda sudah terdata sebagai pemilih yang dipasang di rumah warga saja ada yang fotokopian kok,'' tandasnya.

Ketua KPUK Blora Moesafa saat dikonfirmasi mengakui kalau belum menerima laporan resmi soal itu. PPDP, kata dia, dibentuk dan di SK oleh panitia pemungutan suara (PPS) i tingkat desa. Sedangkan Sudarwanto, anggota KPUK lainnya menambahkan, Panwaslu memang pernah menyampaikan temuan itu saat rakor dengan KPUK pada 28 Mei lalu. Hanya, sampai kemarin belum ada laporan resmi. Meski begitu, kata dia, KPUK sudah menindaklanjuti dengan mengingatkan PPK. '"Sudah kami tindaklanjuti'' katanya.

Sedangkan Budi Prayitno, salah satu anggota PPK Cepu juga membenarkan hal itu. Hanya, dia mengatakan, sekarang semuanya sudah diberi SK.''Dulu memang belum di SK, sekarang sudah,'' katanya, tanpa menyebutkan alasan kenapa PPDP tidak di beri SK. (ono)

[ Senin, 01 Juni 2009 ] 
Demam Facebook Ramba Blora 
BLORA - Wacana pengharaman situs jejaring sosial (facebook) oleh farum silaturrahim pondok pesantren putri Jawa Timur ternyata menemui antiklimaks. Pasalnya, wacana tersebut justru memancing rasa penasaran pengguna internet, khususnya ABG (anak baru gede), untuk mengunjungi dan menjadi anggota situs tersebut.

M. Imron, 23, warga Kota Blora ini mengaku biasanya menggunakan internet untuk membantu tugas-tugas kuliah. Namun, belakangan ia mulai mengunjungi dan menjadi anggota facebook. ''Awalnya hanya penasaran mas, soalnya saya baca berita di koran katanya facebook diharamkan,'' katanya.

Namun, lanjut dia, belakangan ia justru lebih sering mengunjungi situs tersebut. Alasannya, ia menemukan beberapa manfaat. Seperti menambah teman dan menjalin silaturrahim dengan teman lama yang terpisah. Menurut dia, ternyata tidak sedikit teman sewaktu SMA-nya yang juga menggunakan situs jejaring sosial itu.

''Saya tidak menolak jika dikatakan facebook memang ada dampak negatifnya. Namun, itu kembali pada diri kita masing-masing. Jika memenag kita bisa memproteksi diri dan hanya mengambil manfaatnya mengapa tidak,'' katanya.

Hal senada dikatakan Helen, pelajar kelas XI salah satu SMA swasta di Kota Sate ini mengaku menjadi anggota facebook sekitar empat bulan lalu. Hasilnya, bukan hanya memperoleh teman, ia mengaku mendapat banyak pengetahuan baru karena lebih banyak shearing informasi dengan teman-temannya dari luar daerah. Misalnya, informasi terkait perkembangan IT.

''Ya, semua memang punya sisi positif dan negatif. Selanjutnya, kembali pada diri kita untuk mengambil sisi yang mana,'' katanya bijak.

Andri, 26, penjaga warung internet (warnet) di GOR Mustika Blora mengaku beberapa waktu terakhir pengunjung di warnetnya memang menunjukkan pningkatan. Mayoritas, kata dia, para pelanggan terlihat mengunjungi situs jejaring sosial, baik facebook maupun frienster. ''Sebelumnya kadang juga ada peningkatan pengunjung, namun, rata-rata mereka download makalah-makalah untuk tugas sekolah,'' katanya. (dim)


Tabloid SR edisi 68-PNS NAIK PANGKAT



Kenaikan Pangkat 898 PNS Saat Harkitnas

Blora, SR - Sebanyak 898 PNS Blora menerima SK kenaikan pangkat. pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diadakan di Halaman Kantor Bupati Blora, Rabu (20/5) lalu. SK diserahkan secara langsung oleh Bupati Blora Yudhi Sancoyo. Tampak hadir Muspida plus, semua kepala SKPD, Semua Kabag, seluruh karyawan Setda, Kosgoro serta perwakilan pelajar di Blora.


Sementara usai upacara Kabag Humas Setda Blora Hj Hurip Indiani dalam keterangannya, 898 PNS yang naik pangkat itu mulai golongan I hingga golongan IV. Dengan kenaikan pangkat itu, diharapkan para PNS semakin meningkatkan kinerjanya dalam melayani masyarakat. 

''Selain itu, bupati juga menyerahkan penghargaan pengabdian bagi PNS lain,'' ujarnya. Adapun penghargaan yang diberikan itu, kata kabag humas setda Blora, berupa Satya Lencara Karya Satya untuk pengabdian 20 tahun. 

“Juga ada 12 PNS yang menerima penghargaan ini. Namun, seorang diantaranya tidak bisa hadir menerima penghargaan,” jelas Anik panggilan akrabnya.

Disamping itu Anik menggarisbawahi, pada kegiatan itu juga diserahkan tali asih masing-masing Rp 1 juta bagi 146 PNS yang purna tugas. Serta uang duka bagi 28 ahli waris PNS yang meninggal dunia. ''Uang duka sebanyak Rp 2,5 juta,'' tandasnya.

Usai upacara bendera, bupati dan rombongan melakukan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Wira Bhakti. (Roes)


Kontrak Bambang Harsoyo, Bidik Libero dan Striker Baru 

BLORA, SR – Setelah dijajal pada pertandingan persahabatan melawan Persibo Bojonegoro, Kamis (21/5), manajemen tim Persikaba Blora akhirnya resmi mengontrak mantan pemain Persiku Kudus Bambang Harsoyo yang berlaga di kopetisi divisi utama yang baru saja usai.
”Setelah melihat permainannya saat lawan Persibo yang bagus, kami merekrutnya untuk melengkapi komposisi gelandang atau pemain tengah Persikaba sehingga menjadi kuat dan solid,” kata Asisten Manajer Abdul Muiz, usai penandatangan kontrak di Sekretariat Persikaba Blora, Jum’at (22/5).

Aiz, demikian panggilan akrabnya berharap agar dengan pengalaman yang dimiliki Bambang Harsoyo yang sudah merasakan atmosfir kompetisi divisi utama bersama Persiku dapat memberikan kontribusi yang baik untuk memajukan sepak bola yang ada di Blora.

Dalam pertadingan melawan Persibo, meski dimasukkan pada babak kedua, Bambang Harsoyo terlihat lincah dan pergerakannya seringkali mengancam barisan pertahanan Persibo dan umpan-umpan yang akurat dan kerjasama dengan pemain lainnya yang sudah padu.

Menurut Aiz, saat ini pemain yang dimiliki laskar sunan pojok baru 23 pemain sehingga masih dimungkinkan ada penambahan pemain baru. Namun untuk pemain baru tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan tim.

”Saat melawan tim tangguh seperti Persibo kemarin, nampaknya posisi striker dan libero yang akan kami tambah sehingga kekuatan disemua lini dapat berimbang,” tambah Aiz yang juga wartawan Suara Merdeka Biro Blora ini.

Untuk posisi libero sebenarnya skuad Persikaba sudah ada Nugroho Andriyanto namun karena kompetisi yang panjang masih diperlukan pemain pelapis yang sudah kaya pengalaman. Sementara untuk posisi striker ada tiga penggedor, Dian ”Jambul” Kristanto yang pernah meperkuat PSPM Magelang, Alamsyah dan Mustari. 
”Penambahan pemain, akan kami prioritaskan di kedua posisi khususnya striker,” tegas Aiz. (Gie)



LINTAS MURIA- Mbah Marijan di Blora


01 Juni 2009
Mbah Marijan Kini Tak Lagi Mencari Air

JIKA tidak dibatasi waktu, mungkin saja Mbah Marijan (72) akan bercerita panjang lebar tentang pengalamannya selama ini mencari air bersih pada musim kemarau. 

Meski hanya tiga menit berdiri di panggung, warga Dukuh Boleran, Desa/Kecamatan Jiken, Blora itu dengan lancar mengisahkan pengalaman yang tidak mungkin dilupakannya ketika harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan seember air bersih. 

“Mungkin saya adalah pria paling tua di desa ini yang masih mencari air dengan sepeda,” ujarnya saat menyampaikan testimoni sulitnya warga Desa Jiken mendapatkan air bersih pada musim kemarau. Testimoni dikemukakan di hadapan Bupati Blora RM Yudhi Sancoyo dan tamu undangan saat peresmian penyerahan program Water and Sanitation, belum lama ini. 

Program hasil kerja sama masyarakat dengan Mobil Cepu Limited (MCL) tersebut antara lain berupa pembangunan sumur artetis dan fasilitas penunjang distribusi air bersih. 

Program dilaksanakan di tiga desa, yakni Desa Jiken, Desa Cabak, Kecamatan Jiken dan Desa Gadu, Kecamatan Sambong. Dengan selesainya program tersebut, warga di tiga desa itu tak akan lagi merasakan sulitnya memperoleh air bersih, terutama saat memasuki musim kemarau. 

Dengan debit air tiga liter/detik, sekitar 350 keluarga di Desa Jiken akan tercukupi kebutuhan air bersihnya. Di Desa Cabak dan Desa Gadu, debit air yang mengucur dari sumber air masing-masing mencapai lima liter/detik. 
Ratusan keluarga di kedua desa itu pun bisa mendapatkan air melalui pipa yang terpasang hingga di rumah-rumah. 

Mbah Marijan menceritakan, ketika musim kemarau tiba dan air sumur di rumah warga mulai mengering, mau tidak mau warga harus mencari air ke dusun atau desa lain. Untuk mencapai dusun atau sumber air tersebut, jarak yang ditempuh cukup jauh, minimal dua kilometer.  
Tengah Malam
Menghindari rebutan dan agar tidak kehabisan air, dia mengaku sering berangkat tengah malam dengan memakai penerangan obor. “Kalau tidak begitu (berangkat tengah malam —Red), saya tidak bisa mendapat air,” katanya. 

Dengan adanya proyek air bersih yang diprakarsai MCL, Mbah Marijan kini tak perlu lagi bersusah payah mencari air bersih. “Usia saya sudah tua. Masa harus ambil air terus,” katanya. 

Penemuan sumber air di Desa Jiken yang diyakini tetap mengucur deras meski musim kemarau, bukan tanpa perjuangan. Mustahar, ketua Kelompok Pengelola Air Bersih (KPAB) Sumber Tirta Makmur Jiken, menceritakan, sumber air tersebut berada di Dusun Watulumbung. 

“Setelah enam kali mengebor di tempat yang berbeda-beda, akhirnya didapatkan air bersih. Lokasinya di dekat sumur di Dusun Watulumbung. Kedalaman sumur bor itu mencapai sekitar 132 meter,” katanya. 

Hal yang sama juga disampaikan Sukirman dari Desa Gadu Kecamatan Sambong. Warga desanya, kata dia, juga menerima program Water and Sanitation. 

Namun, jika Desa Jiken pindah enam kali, di desanya sampai puluhan kali. Dia juga mengerahkan semua kemampuan dan potensi. Minta petunjuk orang pintar di mana lokasi yang tepat dan ada sumber airnya, sudah dilakukan. “Pokoknya semua syarat dari orang-orang tua sudah kita lakukan,” katanya.

“Setelah beberapa kali di bor di tempat yang berbeda, akhirnya airnya bisa didapat dan mengucur deras,” katanya. (Abdul Muiz-71)


30 Mei 2009
Jumlah Pemilih Turun 10.720 Orang

BLORA-Perbaikan daftar pemilih tetap (DPT) Pilpres 2009 telah selesai. KPU Blora menetapkan DPT, Kamis (28/5) sore. Berdasarkan penetapan tersebut, jumlah warga Blora yang mempunyai hak pilih dalam Pilpres sebanyak 686.630 orang. Angka tersebut mengalami penurunan sebanyak 109 pemilih dibanding penetapan awal DPT pilpres, Minggu (24/5). 

Bahkan jika dibandingkan DPT pemilu legislatif beberapa waktu lalu, jumlah pemilih berkurang sebanyak 10.720 pemilih. DPT pemilu legislatif di Blora sebanyak 697.350 orang. 

Di pemilu legislatif beberapa waktu lalu, DPT di Blora mengalami sejumlah permasalahan. Mulai dari adanya warga yang belum terdaftar, pemilih ganda hingga adanya beberapa nama anggota TNI dan Polri yang masuk dalam DPT. 
Agar permasalahan serupa tidak terulang lagi, KPU membuka posko pengaduan khusus pendaftaran pemilih pilpres, bersamaan dengan dimulainya pemutakhiran data pemilih. 
Pencermatan Pemilih
KPU Blora juga mengintruksikan PPK di kecamatan dan PPS di desa dan kelurahan melakukan pencermatan jumlah pemilih pilpres. Hasil pemutakhiran data pemilih selanjutnya dituangkan dalam daftar pemilih sementara (DPS). Warga diberikan untuk menanggapi pengumuman DPS pilpres yang berasal dari DPT pemilu legislatif tersebut. DPS yang telah mendapatkan tanggapan masyarakat itu selanjutnya ditetapkan menjadi DPT, Minggu (24/5). 

Hanya, meski telah ditetapkan, namun KPU Blora masih memberikan waktu selama tiga hari, sejak Senin (25/5) hingga Rabu (27/5), kepada warga untuk ikut mengoreksi DPT. 

Hal itu sesuai surat KPU nomor 918 tahun 2009 yang menyebutkan bagi warga yang belum terdaftar bisa didaftar sampai pada 28 Mei 2009. Sebelumnya berdasarkan keputusan KPU nomor 32/2009, jadwal penetapan DPT Minggu (24/5). ”Setelah semua proses penyusunan DPT pilpres dilalui, kami akhirnya menetapkan DPT tersebut,” ujar Ketua KPU Blora Moesafa, kemarin. 

Dia mengatakan, penurunan jumlah pemilih terjadi setelah pihaknya melakukan pencermatan semua data dan pengaduan yang masuk baik dari masyarakat maupun Panitia Pengawas (Panwas) Pemilihan Umum Blora. Moesafa yang juga ketua umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor menyakini, DPT yang telah ditetapkan itu tidak akan mengalami perubahan lagi. ”Kami tidak mau berandai-andai apakah DPT itu bisa berubah lagi atau tidak. Yang pasti DPT sudah ditetapkan dan itulah pemilih yang akan menyalurkan hak suaranya di pilpres nanti,” tandasnya.(H18-79)