Sabtu, 06 Maret 2010

Wawasan (Pesisir Timur)


.Friday, 05 March 2010.

Pasrah dengan kaki diamputasi

BLORA - Kondisi Ahmad Ridwan (13) hanya bisa rebahan di atas tempat tidur dengan kaki kanan yang baru diamputasi. Sorot matanya menerawang kosong, namun dia masih tampak tegar dengan tersenyum kecil saat beberapa orang menjenguknya.

Kaki anak kelas V SD ini diamputasi, karena tersetrum listrik tegangan tinggi (220 V), saat mencarikan pakan ternak, dengan memanjat pohon yang teryata ada kabel listrik. Karena tersetrum kemudian anak pasangan suami istri Suparman dan Karni ini terjatuh, hingga membuat kakinya diamputasi.

Menurut dia, saat itu sebenarnya dia baru pulang sekolah.Kemudian bermaksud membantu kedua orangtuanya mencarikan rambanan untuk pakan kambing. Namun nampaknya hari itu naas baginya.

Ayah Ahmad Ridwan,Suparman mengatakan, setelah peristiwa itu, dia telah berusaha membiayai untuk pengobatan anaknya, hingga sampai diamputasi.

”Biaya pengobatan sudah banyak, termasuk rumah yang saya tempati ini sudah saya jual untuk tambahan biaya pengobatan anak saya ini, sebab sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Ahmad Ridwan merupakan siswa yang pandai di sekolahnya, bahkan juga menjadi atlet renang yang di miliki Kabupaten Blora. Dengan kondisi itu, harapan Ahmad Ridwan yang tinggal di Desa Purwosari, Kecamatan Blora ini untuk menjadi perenang, nampaknya kandas.

Melihat kondisi itulah, Bupati Blora RM Yudhi Sancoyo dengan didampingi sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora memberikan bantuan untuk meringankan beban Ahmad Ridwan, dengan memberikan sebuah kursi roda agar Ridwan bisa beraktivitas dengan baik. K.9-Tj

-------

Radar Bojonegoro


.Jum'at, 05 Maret 2010.
Budiyono-PT Kurnia Saling Klaim
Terkait Kasus Proyek Pematangan Lahan CPP

BLORA - Setelah Pemkab Blora melalui Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) mendesak persoalan proyek pematangan lahan Central Processing Plant (CPP) milik Pertamina EP-Proyek Pengembangan Gas Jawa (PPGJ) di Desa Sumber Kecamatan Kredenan segera diselesaikan, pihak PT Kurniadjaya Wirabhakti, kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut mulai angkat bicara.

Kuasa PT Kurniadjaya Wirabhakti, Suganda F Situmorang mengatakan, soal proyek tersebut memang dia yang tahu detailnya. Dia mengatakan agak lama memberikan jawaban karena baru kembali ke Jakarta setelah dari Medan beberapa hari yang lalu. Suganda mengaku semua persoalan sudah beres sehingga tidak ada lagi yang harus diributkan. Apalagi persoalan dengan Pertamina. ''Ini sekaligus hak jawab saya. Pertamina sudah memberesi semua dana proyek. Jika masih ada persoalan itu di intern PT Kurnia,'' katanya.

Terkait klaim pelaksana proyek, Budiyono yang mengaku masih belum dibayar sebagian dananya, Suganda menyatakan tidak benar. Semua itu, kata dia, ada buktinya karena semua pengeluaran yang terkait dengan proyek ada pembukuannya. Dia juga menyangkal kalau Budiyono mengaku nilai proyeknya Rp 12,2 miliar. Sebab, menurut Suganda, proyek yang dikerjakan itu hanya sekitar Rp 11 miliar. ''Dan itu semuanya sudah kami bayarkan. Jadi, tidak ada persoalan lagi. Kami punya bukti,'' ungkapnya.

Bagaimana dengan persoalan jalan milik pemkab yang rusak dan belum diperbaiki? Suganda justru menyalahkan Budiyono. Dia membeber kalau sudah menyerahkan dana ke Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Blora untuk perbaikan jalan yang rusak akibat dilalui kendaraan proyek. Hanya, dana itu belum diserahkan ke DPU oleh Budiyono. Menurut Suganda, Budiyono adalah orang PT Kurnia sehingga tidak benar kalau dia subkontraktor dalam proyek tersebut. ''Kami memang kerja sama dalam pendanaan. Semua sudah klir. Pertamina sudah tidak ada kaitannya lagi,'' katanya.

Sementara Budiyono saat dikonfirmasi kemarin mengaku sampai saat ini masih belum ketemu Suganda. Pengusaha asal Rengel, Tuban ini mengaku pembayaran juga belum dilakukan. Dia mengatakan, punya bukti-bukti yang menyebutkan kalau pekerjaan yang diterima senilai Rp 12,2 miliar. Sedangkan yang dibayar baru Rp 9,4 miliar. Sehingga kekurangannya memang hak dia untuk menagih. ''Kami juga punya dokumen yang asli. Data siapa yang benar bisa dicek,'' kata dia.

Diberitakan sebelumnya, Budiyono yang merasa dananya belum dibayar sejumlah Rp 2 miliar lebih mengancam akan membongkar proyek pematangan lahan CPP yang sudah jadi. Dia akan mengambil tanah senilai uang yang belum dibayarkan tersebut. Sebab, dia mengaku kecewa dengan PT Kurniadjaya Wirabhakti yang belum melunasi pembayarannya. Sementara, Pertamina yang merasa sudah melunasi semua uang kontrak juga kaget atas kasus tersebut. (ono)

-------

.Jum'at, 05 Maret 2010.
KPUK Diprotes Pimpinan Parpol
Jadwalkan Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Pendaftaran Ditutup

BLORA - Sejumlah pimpinan partai politik (parpol) di Blora mendatangi kantor Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) setempat di Jalan Halmahera No 11 kemarin (4/3). Kedatangan mereka untuk mempertanyakan soal jadwal tes kesehatan bakal calon bupati/wakil bupati (bacabup/bacawabup) yang dirasa janggal. Mereka adalah Abdullah Aminuddin (PKB), Mulyono (PKS), Susanto (PIB), Legiyono (Hanura), Yulianto (PPDI) dan Seno Margo Utomo (PKS). ''Kedatangan kami untuk mempertanyakan jadwal tes kesehatan bagi bacabup dan bacawabup yang tidak logis," kata Legiyono.

Menurut Susanto, pendaftaran bacabup/bacawabup dijadwalkan 13-19 Maret. Tetapi anehnya, tes kesehatan untuk para bakal calon itu dijadwalkan pada 14 Maret. Jadwal itulah yang mengudang protes. Sebab, saat itu pendaftaran calon masih dibuka. Jadwal itulah dianggap tidak fair. ''Saya khawatir ada kepentingan dibalik ini,'' tambah Susanto yang diamini oleh rekan-rekannya.

Para anggota dewan tersebut khawatir, jika tes kesehatan dilaksanakan pada 14 Maret sementara pendaftaran sebenarnya dibuka hingga 19 Maret, maka akan menimbulkan konflik. Sebab, tidak bisa dipastikan kalau para calon, atau orang yang akan mendaftar bisa mendaftar sebelum tanggal 14 Maret. Sebab, rentang waktunya satu minggu. Bahkan, Seno Margo Utomo menyatakan, dia curiga ada agenda tersembunyi dengan jadwal itu. ''Kalau mendaftar setelah tanggal 14 Maret bagaimana. Apa ditolak. Ini harus dicurigai,'' katanya.

Menanggapi hal itu, Ketua KPUK Moesafa yang didampingi dua anggotanya Ketua Pokja Pencalonan Achmad Zakki dan Arifin serta Ninik Hidayanti dari Panwas Kabupaten, menolak tudingan itu. Menurut Safa, KPUK tidak punya kepentingan. Tapi, lanjutnya, jadwal itu terkait dengan MoU KPUK dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Dinas Kesehatan (Dinkes). ''Kesepakatannya memang tanggal itu (14/3),''; katanya.

Safa juga mengucapkan terimakasih atas masukan dari anggota dewan yang hadir saat itu. Hanya, KPUK tidak bisa langsung memberikan jawaban. Ketua GP Ansor itu mengaku ada mekanisme yang harus dilalui. Apakah jadwal akan diubah ? ''Akan kita bahas terlebih dahulu,'' tegasnya.

Mengenai alasan KPUK tersebut, Legiyono justru kembali mempertanyakan. Apakah tidak ada pihak lain yang menangani pemeriksaan itu. DPRD sudah memberikan dana, jika perlu KPUK menggandengan rumah sakit yang lengkap peralatannya. Seperti rumah Karyadi Semarang. ''Jika perlu ke Semarang biar mantap. Kalau di sini gak bisa ditinggal saja, cari yang lain. Tapi jangan kepentingan yang lebih besar dikorban,'' tandasnya. (ono)

-------

.Jum'at, 05 Maret 2010.
Koalisi PPP-Hanura Usung Kokok-Abu Nafi
BLORA - Mendekati pendaftaran bakal calon bupati dan bakal calon wakil bupati yang dimulai 13 Maret nanti, peta politik menjelang Pilkada Blora 3 Juni mendatang semakin jelas. Kemarin (4/3), Partai Hanura dan PPP menyatakan berkoalisi, dan akan mengusung sendiri pasangan calonnya.

Sebelumnya, dua partai ini sudah menyatakan koalisi, namun di tengah jalan diisukan bubar. "Saat ini, koalisi kami sudah mantap," ungkap Edi Harsono, ketua DPC Hanura Blora didampingi Aminudin, sekretaris DPC PPP setempat kemarin.

Dua anggota DPRD Blora itu mengatakan, saat ini sudah bukan saatnya lagi ditutup-tutupi. Koalisi sudah memenuhi syarat minimal untuk dapat mengusung calon, lantaran sudah mencapai tujuh kursi. Rinciannya, PPP, empat kursi, dan Hanura, tiga kursi di DPRD. Kedua partai ini mengusung Letkol Inf Djoko Nugroho (Kokok) dan Abu Nafi.

Abu Nafi sendiri sebelumnya juga sudah mendaftar di PKB. "Memang dua orang ini yang sudah resmi mengambil formulir dari kami," kata Edi Harsono.

Bagaimana dengan partai lain yang juga mencalonkan? Sebab, Abu Nafi sudah dikaitkan dengan PKB. Sementara, Kokok yang tidak lain merupakan adik kandung mantan bupati Blora (almarhum) Basuki Widodo, juga dikaitkan dengan Partai Demokrat. Bahkan, Kokok kabarnya juga sedang menunggu rekomendasi dari DPP PDIP.

Edi menjelaskan, kalaupun misalnya ada partai lain yang mengusung, pihaknya malah mempersilahkan partai tersebut bergabung dengan koalisi PPP-Hanura yang sedang dibangun. "Silakan, kalau partai lain mau gabung. Yang jelas pasangan ini yang kita usung,'' terangnya.

Edi memastikan akan segera mengurus rekomendasi dari DPP masing-masing. Meski soal rekomendasi bakal calon adalah wewenang DPP masing-masing, Edi meyakinkan usulan dari DPC sangat diperhatikan. Sehingga, kedua petinggi partai di Blora itu yakin usulannya yang akan disetujui. "Mekanismenya sama, namun usulan dari kami juga diperhatikan. Apalagi kami hanya mengusulkan satu nama,'' tandasnya.

Edi mengklaim, duet Kokok-Abu Nafi akan menjadi duet yang berpotensi memenangkan pilkada. Sebab, selama ini kedua nama itu sudah mempunyai basis massa yang solid di tingkat bawah. Kokok yang asli Kecamatan Cepu, selama ini dikenal mengakar di Blora bagian timur, yakni mulai Cepu sampai Kedungtuban, hingga Sambong.

Sedangkan Abu Nafi mempunyai pendukung berat di wilayah barat seperti Kecamatan Japah, Todanan, Kunduran, dan sejumlah kecamatan lainnya. "Ini ibarat duet maut. Kalau rekomendasi turun, kita segera deklarasikan," tandasnya. (ono)

-------





Jumat, 05 Maret 2010

Suara Merdeka - JEMBATAN AMBROL & BUPATI BLORA RESMIKAN SEKOLAH INTERNASIONAL


05 Maret 2010 09:23 wib Daerah


Jembatan Kian Miring, Jalur Purwodadi-Blora Ditutup Total


Grobogan, CyberNews. Kemiringan jembatan Kedung Kendil yang semakin mengkhawatirkan, membuat Dinas Bina Marga menutup total arus lalulintas Purwodadi-Blora yang melalui Jembatan Kedung Kendil di Dusun Sono, Desa Bandungsari, Kecamatan Ngaringan, Kamis (4/3).

Hanya sepeda motor yang diperbolehkan melewati jembatan yang lebar jalannya menyisakan kurang dari dua meter itu. Palang penutup jalan di perempatan Wirosari dari arah Purwodadi juga telah ditutup sepenuhnya, sehingga kendaraan beroda empat tidak bisa lagi menerobos.

"Kami putuskan untuk menutup total arus lalulintas yang melewati jembatan. Pasalnya, kami tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan, mengingat kondisinya semakin parah dari hari kehari," kata H Narto, Kepala Balai Pelaksana Teknis Dinas Bina Marga Jawa Tengah Wilayah Purwodadi, Kamis (4/3).

Agar tidak memperlama penutupan jalur itu, Dinas Bina Marga mulai Kamis (4/4) pagi mulai memasang kerangka Jembatan Bailly (acrowpanel) di sebelah utara jembatan yang rusak atau bekas jembatan lama. Dinas terkait menargetkan dalam satu pekan, jembatan darurat tersebut sudah bisa dilalui.

Meski ditargetkan dalam satu pekan transportasi normal kembali, Dinas Bina Marga memiliki pekerjaan rumah tersendiri. Pasalnya, menurut H Narto, rencananya pada Sabtu (6/3), Gubernur Jateng Bibit Waluyo bersama Menteri Kehutanan akan melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Japah, Kabupaten Blora.

Para pejabat Negara tersebut direncanakan akan melalui jalur darat, sehingga dipastikan melalui jembatan Kedung Kendil yang sedang dalam kondisi miring.

"Meski target kami satu pekan untuk pemasangan jembatan Bailley, namun kami optimis dalam dua hari atau Sabtu besok sudah bisa dilalui Gubernur dan Menhut. Kami sudah instruksikan agar pekerjaan pemasangan jembatan darurat dilakukan 24 jam," Kasi Jembatan BPT Bina Marga Wilayah Purwodadi Siswanto BE.
( Dheky Kenedi / CN16 )




05 Maret 2010


Blora Bangun TK/SD Internasional


BLORA - Kabupaten Blora bakal membangun TK/SD bertaraf internasional di Cepu. Kemarin, Bupati Drs RM Yudhi Sancoyo MM meletakkan batu pertama pembangunan TK bertaraf internasional satu-satunya di Jawa Tengah itu, disaksikan Kepala Subdit Kelembagaan Pengembangan TK/SD Kementerian Pendidikan Nasional M Husnan MPd.


TK/SD itu dibangun di atas lahan eks SD Balun 7, Jalan Diponegoro, Cepu. Yudhi mengemukakan pembangunan TK itu berawal ketika dia diminta datang ke Kementerian Pendidikan Nasional. Dia mengatakan, pembangunan sumber daya manusia saat ini menjadi salah satu prioritas.


”Perlu peningkatan sumber daya manusia karena Blora kaya minyak dan sumber daya alam lain,” katanya.Husnan menyatakan Kementerian Pendidikan Nasional menargetkan membuat TK/SD semacam itu minimal satu di setiap kabupaten/kota.


”Namun kami tak ingin membuat sekolah model Belanda kuno, yang cenderung mengotak-ngotakkan masyarakat.”Dia meminta para kepala sekolah dan guru tidak gagap teknologi. (ros-53)

Rabu, 03 Maret 2010

Radar Bojonegoro


.Rabu, 03 Maret 2010.
PDIP Pastikan Recall Tiga Anggota
BLORA - Tiga anggota Fraksi PDIP DPRD Blora yang tidak hadir dalam konferensi cabang (konfercab) DPC PDIP setempat Sabtu (27/2) lalu, harus membayar mahal. DPC PDIP Blora memastikan tiga anggota itu akan di-recall. Ketiga anggota itu adalah Kartini, Dwi Astutiningsih, dan Lina Hartini.

Kepastian akan di-recallnya tiga srikandi DPRD itu disampaikan Ketua DPC PDIP Blora Colbert Mangara Tua. "DPP tidak main-main. Mereka pasti akan di-PAW (pergantian antarwaktu),'' ujar Colbert, di gedung DPRD Blora, kemarin (2/3).

Menurut anggota Komisi C DPRD Blora itu, sebelumnya dirinya belum bisa memastikan apakah tiga anggotanya akan mengalami PAW atau tidak. Alasannya, belum menerima perintah dari DPP PDIP. Namun, setelah DPP memerintahkan, pihaknya langsung akan memproses PAW ketiga anggota dewan ini. "Segera kita proses,'' tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, karena tak menghadiri konfercab, tiga anggota DPRD terancam di-PAW. Hal itu bermula dari kemarahan Ketua DPP PDIP Mangara Siahaan yang ketika itu memimpin konfercab. Sebab, dari delapan anggota FPDIP, hanya lima yang hadir. Menurut Mangara, hal itu sebagai bentuk tidak hormatnya kader dan anggota dewan pada proses dan mekanisme di partai. Mangara, kala itu mengatakan akan melaporkan hal itu kepada Ketua Umum DPP PDIP Megawati dan meminta ketiganya di-PAW.

Dwi Astuti Ningsih sendiri mengaku tidak bersalah. Perempuan yang juga ketua FPDIP ini menyatakan, ketika itu tidak ada undangan konfercab untuknya. Hal itu juga berlaku untuk anggota dewan dari PDIP lainnya. Sehingga, dia mengaku tidak seharusnya disalahkan dan di-PAW. "Tidak ada undangan. Saya jadi kader PDIP sudah lama. Jadi, tahu kalau konfercab adalah gawe besar partai. Jika ada undangan saya pasti akan datang,'' katanya.

Hal senada disampaikan Kartini dan Lina Hartini. Keduanya mengaku, saat konfercab digelar, sama sekali tidak dikabari. Karena itu, mereka malah mempertanyakan jika lima anggota dewan yang hadir bisa tahu ada konfercab. Karena tidak ada informasi, dia mengatakan Sabtu (27/2) itu ke Semarang untuk berobat. Dia dikabari sudah sore saat konfercab selesai. "Handphone saya on terus. Jadi, kalau dikabari pasti saya datang. Saya dikabari Bu Catur sudah sore," ungkapnya.

Menurut dia, semestinya DPC mengklarifikasi dulu kenapa tidak datang. Bahkan, dia menduga dirinya dijebak sehingga seolah-olah tidak loyal kepada partai. "Mungkin saya dijebak. Karena selama ini belum ada klarifikasi. Kalau dijebak sakit rasanya.'' (ono)

-------

Selasa, 02 Maret 2010

Wawasan (Pesisir Timur)


.Monday, 01 March 2010.
Jalan Blora-Purwodadi-Semarang rusak

BLORA - Kondisi fisik jalan jalur tengah Blora- Purwodadi-Semarang kini semakin rusak parah.Selain bergelombang dan berlubang-lubang tajam, banyak badan jalan yang ambles, aspal terkelupas, banyak pengendara motor yang berjatuhan dan truk-truk mengalami kerusakan.

Jalan yang rusak parah itu, dari hasil pantauan Wawasan, Minggu (28/2) terjadi antara Blora-Kunduran, Ngaringan- Wirosari, Wirosari-Ngantru- Tawangharjo, disusul beberapa kilometer barat Kota Purwodadi.

Beberapa warga Blora pengguna jalur vital Blora-Semarang mengaku tidak nyaman lagi melewati jalur tengah itu. Bahkan mobil jenis sedan sudah jarang yang melintas dan lebih suka memutar melalui pantura.

Bupati Blora RM Yudhi Sancoyo, menyatakan prihatin dengan kondisi jalan provinsi itu, sehingga dia berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) segera memperbaikinya. "Terus terang kami sangat prihatin dengan jalur tengah Blora-Semarang, banyak warga kami yang mengeluh karena rusak semakin parah," ungkapnya.

Menurutnya, jalan Blora- Purwodadi-Semarang merupakan insfrastruktur jalur alternatif vital Surabaya-Semarang, kondisi kerusakan jalan semakin hari memang semakin memprihatikan, ini perlu mendapat perhatian serius Pemprov.

Di jalur ini, kendaraan besar dan berat semakin banyak yang melintas. Dampaknya tidak saja membuat fisik jalan rusak parah berlobang-lobang tajam, berem pinggir kanan kiri jalan juga remuk, jadi pengemudi di jalur ini harus ekstra hati-hati.

"Kami imbau para pengemudi/ pengendara untuk berhatihati, berem kanan-kiri jalan jalur tengah bisa membahayakan keselamatan perjalanan," pesan Kasat Lalu Lintas Kepolisian Resor (Polres) Blora AKP Yudhi Priantono.

Bisa fatal
Hasil pantauan Wawasan, melihat bahwa berem jalan yang remuk berat terjadi di KM 7 barat Kota Blora (kawasan Posngancar), KM 18 (sepanjang Ngawen-Kunduran) dan sepanjang perbatasan Blora-Purwodadi.

Berem jalan banyak yang remuk/ambles jadi kubangan air, tidak hanya licin karena ambles cukup dalam dan memanjang, kondisi tersebut bisa membuat kendaraan tergelincir (slip). Suyatno, pengemudi travel Cepu-Semarang, mengaku waswas dengan kondisi ini. Sebab kalau tidak ekstra hati-hati, nasib mobil yang dikemudikan bisa slip dan fatal.

Hingga berita ini ditulis, kerusakan parah jalur tengah belum ada tanda-tanda akan diperbaiki, termasuk jembatan yang longsor berat di timur Wirosari.Sebelumnya setiap tahun jalur ini juga mendapat perawatan perbaikan miliaran rupiah, kenyataannya kerusakan terus terlihat. K.9-bg

------


Suara Merdeka (Lintas Muria)

Lintas Muria
02 Maret 2010

Tempat Pembakaran Ambrol Dua Pekerja Gamping Tewas

BLORA - Dua pekerja tewas setelah tempat pembakaran batu gamping di Desa Gayam Kecamatan Bogorejo Blora, ambrol, Senin sekitar pukul 01.30. Batu gamping yang masih panas itu menimbun tubuh Jumadi (55) dan Warsiman (50), keduanya warga Desa Jinantan dan Desa Gonting Kecamatan Sale Rembang.

Seorang pekerja lainya yakni Sukani (50) warga Desa Jinantan selamat, namun harus mendapatkan perawatan intensif karena mengalami luka bakar cukup serius.

Hingga kini polisi masih nenyelidiki terjadinya peristiwa tersebut. Kapolres Blora AKBP Isnaeni Ujiarto melalui Kasat Reskrim AKP Pri Haryadi mengemukakan, dari hasil penyelidikan sementara, pihaknya menyimpulkan peristiwa itu kecelakaan murni. ”Kami masih akan menyelidikinya lebih lanjut,” ujarnya kemarin.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, beberapa pekerja mulai melakukan aktivitas pembakaran batu kapur untuk bahan gamping di tungku pembakaran milik Ramuji (35) sejak Minggu (28/2) pukul 18.00.

Setelah beberapa lama batu kapur yang dibakar itu siap diambil. Sembilan pekerja berada bagian atas tungku atau cerobong yang mempunyai tinggi sekitar lima meter, untuk membongkar batu gamping. Sedangkan enam pekerja berada di bawah tungku.

”Sebelum musibah terjadi, para pekerja sudah berhasil membongkar batu gamping sebanyak dua rit (Colt),” tandas Yatimin (40) rekan seprofesi para pekerja.

Namun tanpa diduga dan diketahui penyebabnya, tiba-tiba tungku pembakaran ambrol. Padahal di dalam tungku tersebut tersimpan batu gamping yang masih panas. Longsoran bantu gamping menimpa pekerja yang berada di bawah. Tiga pekerja berhasil menyelamatkan diri begitu melihat tungku pembakaran ambrol. Namun tiga pekerja lainnya kalah cepat dengan longsoran batu gamping.

Mereka pun tertimpa batu kapur yang masih panas tersebut. Sukani, mengalami luka bakar cukup serius, dilarikan ke RSUD dokter R Soetijono Blora. (H18-54)

Radar Bojonegoro


.Selasa, 02 Maret 2010.
Tertimpa Gamping Panas, Dua Pekerja Tewas
BLORA - Nasib nahas menimpa Jumadi,55, warga Desa Jinantan dan Warsiman,50, warga Desa Gonting keduanya di Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang. Dua pekerja pembuatan gamping milik Ramuji,35 warga Desa Gayam Kecamatan Bogorejo itu tewas tertimbun batu gamping yang masih panas. Keduanya tewas dengan luka bakas cukup serius. Satu pekerja lagi Sukani,50, menderita luka bakar dan harus diboyong ke rumah sakit.

Data yang dihimpun di lokasi kejadian menyebutkan, sekitar pukul 18.00 Minggu (28/2) malam, semua pekerja di pembuatan batu camping itu berkumpul di lokasi, sebab, batu camping yang sudah jadi siap dipanen. Sebelum menjadi gamping, bahannya sepert batu itu harus dibakar berjam-jam..

Alat membakar gamping berupa cerobong dengan tinggi sekitar lima meter. Dalam cerobong itu penuh dengan batu gamping yang masih panas. Untuk memanen ada sekitar 15 orang yang terlibat, yakni sembilan orang di atas cerobong dan enam lainnya di bawah. Kejadian bermula saat cerobong ambruk dan mengeluarkan isinya. Akibatnya, enam orang yang dibawah langsung tertimbun batu gamping yang masih panas itu. ''Kejadiannya sekitar pukul 01.00 tadi (kemarin diri hari), '' ujar Yatimin,40 warga Desa/Kecamatan Sale, teman kerja korban.

Sebelum musibah itu, para pekerja itu sudah berhasil membongkar dua rit (colt) batu gamping untuk dijual. Enam orang yang tertimbun itu, tiga orang lainnya bisa keluar sesaat setelah tertimbun. Tak lama kemudian, satu orang lagi, Sukani juga keluar dari timbunan batu batu gamping, namun kondisinya parah. Sekitar pukul 01.00, Sukani diangkut ke rumah sakit dr R Soetijono Blora, sampai tadi siang masih dirawat disana.

Sementara, dua orang lainnya tidak bisa keluar dan ditemukan tewas diantara reruntuhan batu gamping. Kemarin pagi, dua jenazah korban diangkat dari bawah reruntuhan. Sampai saat ini, polisi masih melakukan pemeriksaan terkait musibah itu. Hanya, Kapolres Blora AKBP Isnaeni Ujiarto menyatakan, dari pemeriksaan dan keterangan saksi-saksi dinyatakan kalau kejadian itu murni kecelakaan. Dua jenazah langsung dibawa pulang keluarganya untuk dimakamkan. ''Hasil pemeriksaan sementara ini murni kecelakaan,'' kata Kapolres. (ono)

-------

.Selasa, 02 Maret 2010.
Tambah Kereta, Penumpang Sepi
BOJONEGORO - PT Kereta Api Indonesia (KAI) Stasiun Bojonegoro kemarin (1/3) memastikan menambah satu rute. Yakni, kereta Blora Jaya dengan jurusan Bojonegoro-Stasiun Poncol, Semarang. Namun, penambahan kereta ini belum banyak diketahui oleh

masyarakat. Akibatnya, di hari pertama kemarin masih sepi penumpang.

Kepala Stasiun Bojonegoro, Suprapto mengatakan, penambahan satu kereta menuju arah Surabaya ini merupakan rekomendasi PT KAI Daops IV Semarang. Penambahan ini menyusul animo masyarakat Bojonegoro menuju Semarang mengalami kenaikan. Sebab, penumpang kereta Feeder jurusan Bojonegoro-Semarang kerap berjubel. "Kereta Blora Jaya ini termasuk ekonomi," katanya.

Kereta Blora Jaya berjumlah empat gerbong atau dua set KRD. Dari empat gerbong ini, kereta kelas ekonomi itu dapat mengangkut sekitar 400 penumpang. Namun, tarifnya lebih mahal daripada kereta Feeder dengan jurusan sama. Sebab, kereta Blora Jaya tidak berhenti di semua stasiun. "Hanya stasiun tertentu," kata pria asal Jateng ini. (rij)

-------

.Selasa, 02 Maret 2010.
Kades Bradag Ditetapkan DPO
BLORA - Tarmidi, Kepala Desa Bradag Kecamatan Ngawen, tersangka kasus proyek Peningkatan Prasarana Sosial Ekonomi (P2SE) kembali dipanggil Kejaksaan Negeri Blora. Kemarin (1/3), merupakan panggilan ketiga bagi kades yang diduga menggelapkan sekitar Rp 50 juta. ''Setelah panggilan ini kami akan koordinasi dengan kepolisian untuk menetapkan DPO,'' ujar Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Blora Fitroh Rohcahyanto kemarin.

Dia mengatakan, jika sudah menjadi DPO, Tarmidi bisa ditangkap atau dibawa secara paksa untuk menjalani pemeriksaan di kejaksaan. Sebab, statusnya sudah menjadi tersangka. Hanya, dua panggilan yang sudah dilayangkan Kejari tidak digubris. Sampai saat ini Tarmidi tidak menampakkan batang hidungnya. ''Kami sudah koordinasi dengan Camat Ngawen. Dan dinyatakan kalau dia sudah tidak didesanya,'' tambahnya.

Menurut Fitroh, Camat Ngawen dikabarkan sudah akan mengangkat penjabat (pj) Kades Bradag. Hal itu sesuai dengan usulan BPD dan hasil rapat tokoh warga untuk mengatasi kekosongan jabatan di desa itu. Tarmidi disebut sudah menjual rumahnya sebelum pergi menghindari pemeriksaan dari kejaksaan. ''Lha kalau sudah ada Pj berarti memang Kades sudah tidak di desa itu. Jadi, nanti kita tetapkan DPO, dan bisa ditangkap,'' tandasnya.

Tarmidi ditetapkan jadi tersangka saat diketahui dia diduga menggelapkan Rp 50 juta dari Rp 190 juta dana P2SE yang diterima desanya. Dana itu digunakan untuk mengerjakan proyek irigasi. Hanya, jika mestinya dikerjakan oleh warga, proyek itu ditenderkan. Setelah diperiksa ada dana Rp 50 juta yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. (ono)

-------

.Selasa, 02 Maret 2010.
Pasangan Independen Minim Sosialisasi
BLORA - Pemantau pilkada, Blora Crisis Center (BCC) memperkirakan pasangan yang berangkat dari jalur perseorangan atau independen terancam gagal. Penyebabnya, minimnya sosialisasi yang dilakukan oleh pasangan dari independen. Diperkirakan kegagalan maju bukan hanya terjadi di Blora saja tetapi juga di 17 kabupaten/kota di Jateng yang tahun ini menggelar pilkada. ''Kurang sosialisasi dan waktu bagi calon perseorangan untuk dapat mengumpulkan dukungan,'' ujar Meilana Nyunyun dari Blora Crisis Center (BCC) pemantau independen Pilkada di Blora kemarin.

Pada pilkada 3 Juni mendatang, muncul pasangan dari jalur independent, yakni Teguh Kristiono dan Herman Susilo. Nyunyun mengatakan, waktu yang mepet sangat memberatkan pasangan calon dari jalur independen. Karena itu, KPU provinsi dan kabupaten sebagai lembaga penyelenggara harus lebih tepat dalam merumuskan setiap regulasi dan harus lebih cermat dalam menentukan setiap tahapan. Harapanya, akan memberikan kesempatan yang lebih rasional dan seimbang. ''Meski begitu, kami sangat sulit mengakses data dukungan dari KPUK,'' tambahnya. (ono)

-------

.Selasa, 02 Maret 2010.
Minta Dana Jamkesda Ditambah
BLORA - Komisi D DPRD Blora meminta pemkab setempat menambahi dana untuk jaminan kesehatan daerah (jamkesda).

Jamkesda adalah pogram untuk memberikan layanan kesehatan bagi warga miskin yang belum tercover di jamkesmas. Tahun ini, hanya sekitar Rp 200 juta dana yang disediakan di Dinas Kesehatan. ''Kami minta dana ditambah dengan harapan agar pelayanan kesehatan untuk warga miskin memadai,'' ujar Mulyono, anggota Komisi D DPRD Blora kemarin.

Untuk itu, pemkab harus jeli dan benar-benar memerhatikan program dan usulan kegiatan yang diajukan ke DPRD. Sampai saat ini, kata dia, masih ada kegiatan yang tidak begitu penting, namun dianggarkan cukup banyak. Seperti kegiatan pembinaan sepak bola. Padahal, masih banyak kegiatan lain dan bisa langsung menyentuh kehidupan masyarakat justru terkesan disepelekan. ''Selain dananya ditambah, kami minta pelayanan juga ditingkatkan. Khususnya bagi pasien miskin yang biasanya menerima perlakuan kurang enak. Bahkan, sering administrasi dan birokrasi memperlambat pelayanan,'' kata anggota dewan dari Kecamatan Kedungtuban ini.

Menurut data yang ada, lanjut wakil rakyat dari PKS itu, ada 293 ribu warga miskin yang dicover dalam jamkesmas. Dengan nilai dana Rp 2,5 miliar setahun untuk dua rumah sakit milik pemkab. Yakni, RS dr R Soetijono Blora dan RS dr R Soeprapto Cepu. Sedangkan pemkab mengajukan tambahan sekitar 120 ribu warga lagi. Hanya, untuk tambahan itu, dengan dana yang ada hanya bisa dicover sekitar 5-10 ribu warga saja. ''Itu artinya masih banyak warga yang belum mendapatkan jaminan kesehatannya. Melihat seperti ini sangat tidak etis kalau memaksakan membiayai kegiatan yang berkesan menghamburkan anggaran saja,'' urainya.

Pengalaman tahun lalu, dengan dana jamkesmas yang jumlahnya Rp 2,5 miliar sudah habis Desember. Padahal, APBD baru dilaksanakan pada Juni 2009. ''Apalagi ini yang kemungkinan pada April APBD sudah disahkan. Jadi, memang harus ada perhatian,'' tandasnya. (ono)

-------

.Selasa, 02 Maret 2010.
Perbaikan Jembatan Nanas Butuh Rp 500 Juta
BLORA - Perbaikan jembatan Dukuh Nanas Desa Bleboh Kecamatan Jiken diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp 500 juta.

Itu disebabkan jembatan yang sudah putus dan pondasinya ambrol tersebut harus dibongkar total. Sebab, pondasi yang lama sudah banyak yang keropos. Selain itu, tanah yang menopang pondasi juga banyak yang hilang tergerus air. ''Karena banjir, tanah penopangnya hilang, jadi pondasi juga pecah,'' ujar Kades Bleboh, Baskoro saat dihubungi kemarin.

Dia mengatakan, sudah melaporkan kejadian tersebut ke Pemkab Blora dan Perhutani KPH Cepu. Sebab, jembatan itu berada di wilayah Perhutani Cepu. Hanya, Baskoro juga mengusulkan ke pemkab untuk perbaikan jembatan itu. Alasannya, jalan dan jembatan di dukuh tersebut merupakan jalur ramai yang menghubungkan dengan wilayah-wilayah lainnya. ''Tetap kami laporkan. Kalau melihat kondisinya, kebutuhan untuk memperbaiki ya sekitar Rp 500 jutaan,'' kata dia.

Untuk sementara, jembatan tersebut tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Hanya orang dan kendaraan roda dua yang bisa lewat. Itupun harus berhati-hati karena pada bagian yang putus hanya diberi dua batang pohon kelapa untuk jembatan darutat. Namun, kalau hujan deras kembali mengguyur serta sungai meluap, dikhawatirkan kerusakan semakin parah. ''Bisa-bisa malah ikut hanyut. Karena itu, kami berharap segera diperbaiki,'' tandasnya.

Sementara, Wakil Adm Perhutani KPH Cepu Dewanto saat dikonfirmasi membenarkan kalau jembatannya rusak. Dia mengaku belum bisa memerkirakan kebutuhan biaya untuk memperbaikinya. Sebab, saat ini tim dari Perhutani masih mendata dan melihat kondisi jembatannya. ''Belum bisa dipastikan berapa kebutuhan dananya,'' kata dia.

Meski begitu, dia mengatakan kalau perbaikan akan dilakukan secepatnya. Sebab, jembatan itu termasuk alat transportasi yang vital bagi Perhutani karena menghubungkan dengan hutan di wilayahnya. Bahkan, di antaranya dalam waktu dekat ini siap tebang.

Diberitakan sebelumnya, akibat air sungai meluap pada Sabtu malam, jembatan sepanjang sekitar 10 meter di Dukuh Nanas ambrol dan putus. Akibatnya, transportasi warga terganggu. (ono)

-------

.Selasa, 02 Maret 2010.
Tunggu Perintah DPD-DPP
BLORA - Meski Ketua DPP PDIP Mangara Siahaan menyatakan akan mengusulkan pergantian antarwaktu (PAW) untuk tiga anggota DPRD Blora yang tidak menghadiri konferensi cabang (konfercab) PDIP Sabtu (27/2) lalu, namun sampai kemarin DPC PDIP setempat belum bergerak.

''Sampai saat ini belum ada kabar soal itu,'' ujar ketua DPC PDIP Blora, Colbert Mangara Tua, kemarin.

Dia mengatakan, soal PAW merupakan wewenang DPD dan DPP PDIP. Karena itu, Colbert mengaku kalau pihaknya menunggu perintah. Jika misalnya diperintah untuk memroses PAW anggotanya, maka dia akan melakukan. Sebab, saat ini partainya sedang sibuk konsolidasi untuk menata kembali kepengurusan dan kekuatan yang sempat terpecah-pecah. ''Konsentrasi kami sekarang untuk konsolidasi dan menyatukan langkah,'' tuturnya.

Tiga anggota FPDIP yang terancam PAW adalah Dwi Astuti Ningsih, Kartini, dan Lina Hartini. Colbert sendiri mengaku tidak tahu apa alasan ketiganya tidak datang ke konfercab. (ono)

-------