Senin, 01 Juni 2009

LINTAS MURIA- Mbah Marijan di Blora


01 Juni 2009
Mbah Marijan Kini Tak Lagi Mencari Air

JIKA tidak dibatasi waktu, mungkin saja Mbah Marijan (72) akan bercerita panjang lebar tentang pengalamannya selama ini mencari air bersih pada musim kemarau. 

Meski hanya tiga menit berdiri di panggung, warga Dukuh Boleran, Desa/Kecamatan Jiken, Blora itu dengan lancar mengisahkan pengalaman yang tidak mungkin dilupakannya ketika harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan seember air bersih. 

“Mungkin saya adalah pria paling tua di desa ini yang masih mencari air dengan sepeda,” ujarnya saat menyampaikan testimoni sulitnya warga Desa Jiken mendapatkan air bersih pada musim kemarau. Testimoni dikemukakan di hadapan Bupati Blora RM Yudhi Sancoyo dan tamu undangan saat peresmian penyerahan program Water and Sanitation, belum lama ini. 

Program hasil kerja sama masyarakat dengan Mobil Cepu Limited (MCL) tersebut antara lain berupa pembangunan sumur artetis dan fasilitas penunjang distribusi air bersih. 

Program dilaksanakan di tiga desa, yakni Desa Jiken, Desa Cabak, Kecamatan Jiken dan Desa Gadu, Kecamatan Sambong. Dengan selesainya program tersebut, warga di tiga desa itu tak akan lagi merasakan sulitnya memperoleh air bersih, terutama saat memasuki musim kemarau. 

Dengan debit air tiga liter/detik, sekitar 350 keluarga di Desa Jiken akan tercukupi kebutuhan air bersihnya. Di Desa Cabak dan Desa Gadu, debit air yang mengucur dari sumber air masing-masing mencapai lima liter/detik. 
Ratusan keluarga di kedua desa itu pun bisa mendapatkan air melalui pipa yang terpasang hingga di rumah-rumah. 

Mbah Marijan menceritakan, ketika musim kemarau tiba dan air sumur di rumah warga mulai mengering, mau tidak mau warga harus mencari air ke dusun atau desa lain. Untuk mencapai dusun atau sumber air tersebut, jarak yang ditempuh cukup jauh, minimal dua kilometer.  
Tengah Malam
Menghindari rebutan dan agar tidak kehabisan air, dia mengaku sering berangkat tengah malam dengan memakai penerangan obor. “Kalau tidak begitu (berangkat tengah malam —Red), saya tidak bisa mendapat air,” katanya. 

Dengan adanya proyek air bersih yang diprakarsai MCL, Mbah Marijan kini tak perlu lagi bersusah payah mencari air bersih. “Usia saya sudah tua. Masa harus ambil air terus,” katanya. 

Penemuan sumber air di Desa Jiken yang diyakini tetap mengucur deras meski musim kemarau, bukan tanpa perjuangan. Mustahar, ketua Kelompok Pengelola Air Bersih (KPAB) Sumber Tirta Makmur Jiken, menceritakan, sumber air tersebut berada di Dusun Watulumbung. 

“Setelah enam kali mengebor di tempat yang berbeda-beda, akhirnya didapatkan air bersih. Lokasinya di dekat sumur di Dusun Watulumbung. Kedalaman sumur bor itu mencapai sekitar 132 meter,” katanya. 

Hal yang sama juga disampaikan Sukirman dari Desa Gadu Kecamatan Sambong. Warga desanya, kata dia, juga menerima program Water and Sanitation. 

Namun, jika Desa Jiken pindah enam kali, di desanya sampai puluhan kali. Dia juga mengerahkan semua kemampuan dan potensi. Minta petunjuk orang pintar di mana lokasi yang tepat dan ada sumber airnya, sudah dilakukan. “Pokoknya semua syarat dari orang-orang tua sudah kita lakukan,” katanya.

“Setelah beberapa kali di bor di tempat yang berbeda, akhirnya airnya bisa didapat dan mengucur deras,” katanya. (Abdul Muiz-71)


30 Mei 2009
Jumlah Pemilih Turun 10.720 Orang

BLORA-Perbaikan daftar pemilih tetap (DPT) Pilpres 2009 telah selesai. KPU Blora menetapkan DPT, Kamis (28/5) sore. Berdasarkan penetapan tersebut, jumlah warga Blora yang mempunyai hak pilih dalam Pilpres sebanyak 686.630 orang. Angka tersebut mengalami penurunan sebanyak 109 pemilih dibanding penetapan awal DPT pilpres, Minggu (24/5). 

Bahkan jika dibandingkan DPT pemilu legislatif beberapa waktu lalu, jumlah pemilih berkurang sebanyak 10.720 pemilih. DPT pemilu legislatif di Blora sebanyak 697.350 orang. 

Di pemilu legislatif beberapa waktu lalu, DPT di Blora mengalami sejumlah permasalahan. Mulai dari adanya warga yang belum terdaftar, pemilih ganda hingga adanya beberapa nama anggota TNI dan Polri yang masuk dalam DPT. 
Agar permasalahan serupa tidak terulang lagi, KPU membuka posko pengaduan khusus pendaftaran pemilih pilpres, bersamaan dengan dimulainya pemutakhiran data pemilih. 
Pencermatan Pemilih
KPU Blora juga mengintruksikan PPK di kecamatan dan PPS di desa dan kelurahan melakukan pencermatan jumlah pemilih pilpres. Hasil pemutakhiran data pemilih selanjutnya dituangkan dalam daftar pemilih sementara (DPS). Warga diberikan untuk menanggapi pengumuman DPS pilpres yang berasal dari DPT pemilu legislatif tersebut. DPS yang telah mendapatkan tanggapan masyarakat itu selanjutnya ditetapkan menjadi DPT, Minggu (24/5). 

Hanya, meski telah ditetapkan, namun KPU Blora masih memberikan waktu selama tiga hari, sejak Senin (25/5) hingga Rabu (27/5), kepada warga untuk ikut mengoreksi DPT. 

Hal itu sesuai surat KPU nomor 918 tahun 2009 yang menyebutkan bagi warga yang belum terdaftar bisa didaftar sampai pada 28 Mei 2009. Sebelumnya berdasarkan keputusan KPU nomor 32/2009, jadwal penetapan DPT Minggu (24/5). ”Setelah semua proses penyusunan DPT pilpres dilalui, kami akhirnya menetapkan DPT tersebut,” ujar Ketua KPU Blora Moesafa, kemarin. 

Dia mengatakan, penurunan jumlah pemilih terjadi setelah pihaknya melakukan pencermatan semua data dan pengaduan yang masuk baik dari masyarakat maupun Panitia Pengawas (Panwas) Pemilihan Umum Blora. Moesafa yang juga ketua umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor menyakini, DPT yang telah ditetapkan itu tidak akan mengalami perubahan lagi. ”Kami tidak mau berandai-andai apakah DPT itu bisa berubah lagi atau tidak. Yang pasti DPT sudah ditetapkan dan itulah pemilih yang akan menyalurkan hak suaranya di pilpres nanti,” tandasnya.(H18-79)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar